Sadik Algadri Rilis Buku Membangun Otot di Negeri Kertas

Smallest Font
Largest Font

Mantan atlet judo nasional Sadik Algadri merilis buku berjudul 'Membangun Otot di Negeri Kertas' di Gedung Serbaguna Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (5/9/2026). Seperti dilansir dari Detik Sport, karya ini membedah persoalan tata kelola, kebijakan publik, hingga anggaran olahraga nasional.

Buku yang ditulis selama lima hingga enam bulan tersebut menyoroti masalah regulasi organisasi, penerapan sport science, pengembangan sumber daya manusia, serta alokasi anggaran kompetisi. Penyusunan buku dipicu oleh kekhawatiran Sadik terhadap aturan yang dikeluarkan pemangku kebijakan sebelum pelantikan Presiden RI Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2024.

Mantan atlet era 1970-an hingga 1980-an yang kini menjabat di kepengurusan KONI Pusat tersebut menilai intervensi kebijakan yang tidak tepat berpotensi melanggar ketentuan internasional. Menurutnya, tata kelola olahraga prestasi memiliki standar regulasi khusus yang wajib dipatuhi.

"Jadi, perlu diketahui bahwa olahraga prestasi memiliki semacam garis besar atau undang-undang sendiri yang disebut Olympic Charter. Di dalamnya, secara garis besar, diatur bahwa jika pemerintah ikut campur dalam politik olahraga, apalagi sampai mengatur proses olahraga, ada konsekuensi tertentu, termasuk kemungkinan mendapatkan sanksi," kata Sadik.

Karya tulis ini lahir dari serangkaian diskusi dalam podcast setelah mengamati persoalan mendasar dalam ekosistem olahraga nasional. Sadik menegaskan bahwa gagasan yang dituangkan disusun berdasarkan pemahaman mendalam terhadap etika organisasi olahraga.

"Ya, tentu. Kegelisahan itu pasti ada dasarnya. Kalau hanya marah-marah, tentu tidak masuk akal.

Semua proses itu sudah kami lakukan. Kami memang orang-orang yang berada di organisasi olahraga dan memahami etika dalam olahraga. Etika itu sangat dihargai," kata Sadik.

Pengalaman Indonesia menggelar Asian Games 2018 dinilai belum menjadi momentum kebangkitan berkelanjutan seperti yang dialami Jepang usai Olimpiade 1964. Masalah anggaran kembali menjadi kendala utama dalam pengembangan olahraga nasional menuju tahun 2027 dan masa mendatang.

"Kenapa saya mengatakan demikian? Jepang menyelenggarakan Olimpiade 1964 untuk menunjukkan bahwa mereka, meskipun kalah dalam perang, sudah menjadi negara yang siap dan mampu bangkit kembali," kata Sadik.

Sadik menambahkan bahwa momentum ajang olahraga internasional seharusnya membawa dampak jangka panjang bagi industri olahraga dalam negeri.

"Nah, kami berharap Asian Games 2018 di Indonesia juga bisa menjadi momentum seperti itu. Namun, setelah Asian Games 2018, bahkan memasuki 2027 dan seterusnya, kembali lagi persoalan anggaran seperti yang kita bicarakan tadi," ia menambahkan.

Melalui penerbitan buku ini, Sadik mendorong keterbukaan para pemangku kepentingan untuk mengakui berbagai kekurangan dalam sistem olahraga nasional demi memicu evaluasi menyeluruh.

"Ya, seperti yang saya sampaikan tadi, harapan besarnya adalah adanya perubahan. Kita harus berani menyatakan dan berani mengakui," kata Sadik.

Pengakuan terhadap kesalahan sistemik dinilai sebagai langkah awal yang krusial sebelum merumuskan perbaikan kebijakan secara jernih.

"Pertama, kalau kita mau marah, kita harus mengakui terlebih dahulu bahwa ada kesalahan. Setelah mengakui, baru kita berani menyatakan, 'Ya, ini kita salah.'"

Proses pembenahan tersebut diakui memerlukan komitmen kuat dan kerja keras dari seluruh elemen yang terlibat.

"Setelah itu, kita maju. Kita bisa berubah. That's it. Berpikirnya harus jernih, tetapi mengerjakannya belum tentu mudah," kata Sadik.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed