Saham Asia Pramulia ASPR Anjlok 37 Persen Pimpin Top Losers IHSG Sepekan

Smallest Font
Largest Font

Saham PT Asia Pramulia Tbk dengan kode emiten ASPR anjlok sebesar 37,85 persen dan memimpin jajaran emiten berkinerja terburuk atau top losers ihsg pada penutupan perdagangan pekan ini, Minggu, 31 Mei 2026. Penurunan tajam ini terjadi di tengah kondisi Indeks Harga Saham Gabungan yang bergerak fluktuatif dan cenderung mengalami koreksi dalam lima hari perdagangan terakhir.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 25 hingga 29 Mei 2026, saham ASPR merosot dari harga awal Rp 288 menjadi Rp 179 per lembar saham. Tekanan jual yang tinggi pada emiten ini menjadikannya sebagai saham yang rugi paling besar minggu ini di antara emiten lainnya.

Koreksi ini juga diikuti oleh sejumlah emiten dari berbagai sektor yang masuk dalam daftar saham yang sedang turun nilainya dengan akumulasi penurunan bergerak di rentang 19 persen hingga 37 persen. Penurunan tersebut turut memicu penyusutan volume transaksi harian di pasar modal.

Selain ASPR, beberapa perusahaan mencatatkan koreksi harga yang cukup signifikan selama sepekan terakhir. Kejatuhan harga ini membuat investor harus mereposisi portofolio investasi mereka guna menghindari kerugian yang lebih besar.

Data BEI menunjukkan bahwa pergerakan negatif ini melanda emiten dari sektor keuangan hingga media digital. Berikut adalah daftar lima emiten yang mencatatkan penurunan harga terdalam sepanjang pekan perdagangan tersebut:

PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) menduduki posisi kedua setelah melemah 27,14 persen dari harga Rp 1.345 menjadi Rp 980 per saham. Selanjutnya, saham PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) merosot 24,82 persen dari Rp 141 ke level Rp 106 per saham.

Emiten media PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) juga mengalami tekanan dengan koreksi sebesar 24,07 persen, bergerak dari harga Rp 540 ke Rp 410 per saham. Sementara itu, PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) melengkapi jajaran lima besar setelah merosot 23,57 persen dari Rp 140 menjadi Rp 107 per saham.

Rincian performa historis penurunan harga saham-saham tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 1: Daftar Emiten Top Losers Periode 25-29 Mei 2026
Nama EmitenKode SahamHarga Awal (Rp)Harga Akhir (Rp)Persentase Penurunan
Asia Pramulia TbkASPR28817937,85%
Pacific Strategic Financial TbkAPIC1.34598027,14%
LCK Global Kedaton TbkLCKM14110624,82%
MNC Digital Entertainment TbkMSIN54041024,07%
Dafam Property Indonesia TbkDFAM14010723,57%
Pasar Merah! IHSG Melemah, Ini Top Losers LQ45 Hari Ini | GoStockLearn

Kondisi Pasar dan Penyebab IHSG Melemah

Penurunan harga pada deretan saham di atas sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kurang bergairah. Koreksi pasar secara umum menjadi salah satu penyebab ihsg melemah dan menekan harga saham-saham berkapitalisasi kecil serta menengah.

Berdasarkan data resmi BEI, IHSG secara keseluruhan mengalami penyusutan sebesar 0,56 persen atau berkurang sekitar 35,3 poin dalam sepekan. Indeks acuan tersebut bergeser turun dari level 6.162 pada penutupan pekan sebelumnya menjadi 6.127,3 pada akhir pekan ini.

Meskipun demikian, nilai kapitalisasi pasar di bursa justru mencatatkan pertumbuhan tipis sebesar 0,88 persen atau meningkat sekitar Rp 94 triliun. Total kapitalisasi pasar bergerak naik dari Rp 10.635 triliun menjadi Rp 10.729 triliun pada penutupan perdagangan.

Dari sisi aktivitas perdagangan, rata-rata nilai transaksi harian di bursa melesat naik sebesar 30,37 persen menjadi Rp 28,38 triliun dibandingkan pekan sebelumnya yang sebesar Rp 21,77 triliun. Namun, kenaikan nilai transaksi ini tidak dibarengi dengan volume dan frekuensi perdagangan yang solid.

Penyusutan Volume dan Frekuensi Transaksi

Data bursa memperlihatkan adanya penurunan likuiditas dari sisi jumlah saham yang berpindah tangan. Rata-rata volume transaksi harian anjlok sebesar 15,6 persen menjadi 30,95 miliar lembar saham sepanjang pekan ini.

Kondisi lesu ini dipertegas oleh penurunan rata-rata frekuensi transaksi harian bursa. Jumlah transaksi menyusut sebesar 10,87 persen menjadi 2,11 juta kali transaksi, dari catatan pekan sebelumnya yang mampu mencapai 2,37 juta kali transaksi.

Penurunan frekuensi perdagangan ini mengindikasikan bahwa para pelaku pasar cenderung bersikap menunggu atau wait and see di tengah fluktuasi pasar yang tinggi. Akibatnya, banyak investor menahan diri untuk melakukan transaksi agresif pada saham anjlok hari ini.

Otoritas bursa dan para analis terus memantau pergerakan modal asing serta sentimen ekonomi makro global yang diperkirakan masih akan memengaruhi laju indeks pada pembukaan pekan depan. Pihak regulator mengimbau para investor untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi emiten sebelum mengambil keputusan transaksi.

Informasi ini bukan saran investasi. Konsultasikan dengan penasihat keuangan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed