Samsung Kuasai Pasar Smartphone Asia Tenggara di Tengah Penurunan 15%

Smallest Font
Largest Font

Pasar smartphone Asia Tenggara mengalami kontraksi terdalam sejak kuartal I 2023, dengan penurunan pengiriman sebesar 15% secara tahunan (YoY) pada kuartal II 2026, dilansir dari Detik iNET.

Counterpoint Research mencatat penurunan ini disebabkan oleh kenaikan biaya komponen, terutama memori, serta melemahnya belanja konsumen. Pergeseran pembelian selama musim perayaan ke kuartal pertama turut memperparah kondisi.

Senior Analyst Counterpoint Research, Shilpi Jain, menilai pelemahan di Q2 2026 merupakan kombinasi tekanan biaya dan menurunnya permintaan di seluruh kawasan.

"Perlambatan Q2 2026 mencerminkan kombinasi tekanan biaya dan melemahnya permintaan di seluruh Asia Tenggara. Pasar juga terdampak oleh waktu pembelian musim perayaan, yang menggeser sebagian permintaan ke kuartal pertama," ujar Jain.

Menurutnya, lingkungan bisnis semakin menantang bagi vendor smartphone. Pertumbuhan kini bergantung pada kekuatan kanal distribusi, aktivitas promosi, serta permintaan dari konsumen yang tahan terhadap tekanan ekonomi.

Di tengah penurunan pasar, Samsung justru mencatat pertumbuhan. Perusahaan ini memimpin dengan pangsa 24% di Q2 2026, naik dari 19% pada periode yang sama tahun lalu. Shipment Samsung bahkan tumbuh 6% YoY.

Counterpoint menyebut performa Samsung didukung ketersediaan produk yang lebih baik, kenaikan harga yang terbatas, promosi pertengahan tahun, serta permintaan kuat terhadap perangkat flagship.

Xiaomi menempati posisi kedua dengan pangsa 18%, meski shipment-nya turun 18% YoY. Oppo mengalami penurunan lebih tajam, dengan pangsa pasar merosot dari 22% menjadi 17% dan shipment anjlok 34% YoY.

Transsion dan Apple menyusul dengan pangsa masing-masing 15% dan 9%. Shipment Apple hanya turun 2% YoY, didukung perluasan kehadiran offline, akses produk yang lebih baik, serta strategi terlokalisasi.

Honor mencatat pertumbuhan paling tinggi, dengan shipment melesat 61% YoY berkat ekspansi retail dan strategi portofolio produk.

Segmen smartphone murah menjadi yang paling terpukul, dengan shipment di bawah USD 150 anjlok 38% YoY. Sementara itu, permintaan untuk perangkat premium (USD 500–699) melonjak 74%, dan perangkat di atas USD 700 tumbuh 18%.

"Segmen entry-level menjadi yang paling terpukul, dengan shipment di bawah USD 150 turun 38% YoY dan segmen USD 250–499 turun 11% karena OEM menaikkan harga dan mengurangi eksposur di kelas entry-level," jelas Jain.

Jain menambahkan permintaan smartphone premium tetap kuat, mendorong pasar menuju perangkat dengan harga lebih tinggi.

Counterpoint memperkirakan tekanan akan berlanjut pada semester II 2026. Vendor diprediksi akan lebih selektif, berfokus pada pengelolaan stok, smartphone kelas menengah hingga premium, serta profitabilitas ketimbang volume penjualan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed