SBY Community Gelar Pameran Art for Peace di TIM
Komunitas seni bentukan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, SBY Art Community (SAC), kembali menampilkan karya publik lewat pameran bertajuk "Art for Peace and a Better Future". dilansir dari Detikcom, pameran seni ini berlangsung di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, hingga 30 Agustus 2026.
Gelaran tahun kedua bagi komunitas yang berdiri sejak awal 2025 ini melibatkan 21 pelukis SAC. Penyelenggara juga menggandeng lima pelukis cilik serta satu seniman residensi asal Berlin, Christopher Lehmpfuhl, dengan total menyajikan 150 karya lukisan dari 27 seniman.
Masing-masing seniman mengusung gaya individual namun tetap berpijak pada tema perdamaian global. Salah satu karya yang menyedot perhatian pengunjung adalah lukisan kolaboratif sepanjang 7 meter berujudul "Law of the Jungle".
Karya berukuran besar tersebut menggambarkan lanskap rimba sebagai simbol dominasi kekuasaan dan kekerasan. Hewan predator dihadirkan untuk melambangkan pihak penguasa, sedangkan figur kijang dan sapi merepresentasikan kelompok rentan yang dieksploitasi.
Visual kritik terhadap kekuatan nir-moral ditegaskan lewat tulisan "Might is Right" serta kutipan "The strong do what they can, the weak suffer what they must". Di atas kanvas, tampak pula simbol hukum internasional yang terbakar, helm militer, bendera PBB yang terkoyak, serta merpati terluka. Meski penuh kehancuran, elemen pegunungan hijau dan cakrawala terang disisipkan sebagai simbol harapan.
Kurator pameran, Gie Sanjaya, menjelaskan bahwa karya raksasa tersebut lahir dari refleksi bersama atas konflik global yang terjadi saat ini.
"Lukisan skala besar ini dibuat dengan gagasan yang sama untuk setop war atau perang. Karena beliau (Pak SBY) punya kegelisahan atas kondisi saat ini. Tahun lalu masih ada identitas masing-masing, tahun ini gak kelihatan kan," kata Gie Sanjaya saat diwawancarai di TIM, Selasa (18/8/2026).
Eksplorasi Gaya Lukis SBY
Pesan anti-perang terpancar kuat dalam deretan karya pribadi SBY. Salah satu lukisan lanskap realisme menampilkan potongan karton kardus bertuliskan "Stop War".
Gie Sanjaya menambahkan, instalasi dalam pameran dirancang untuk memperlihatkan perjalanan gaya melukis SBY hingga mengarah pada bentuk abstraksi.
"Ketika perang itu terjadi, semua negara bisa berimpact. Kita gak bisa lagi melihat keindahan Green Canyon dan alam lainnya. Lewat ruangan ini, Pak SBY ingin storytelling menceritakan berbagai tahapannya berkarya. Endingnya, ada di gaya abstraksi yang dibuat tahun ini," kata Gie Sanjaya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow