Serangan Rudal Rusia di Kyiv Tewaskan 12 Orang dan Lukai Puluhan Warga

Smallest Font
Largest Font

Rangkaian rudal balistik dan drone Rusia menghantam ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Kamis (20/8/2026) dini hari, hingga menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 30 warga lainnya. Serangan mematikan tersebut memicu kebakaran hebat di beberapa wilayah kota, merusak fasilitas publik, serta memutus aliran listrik setempat.

Hantaman amunisi Moskow menyasar bangunan pemukiman sembilan lantai hingga terbakar, area non-perumahan, gudang penyimpanan, serta fasilitas rumah sakit anak-anak. Puluhan warga terpaksa melarikan diri dan berlindung di area bawah tanah serta ruang bawah tanah bangunan untuk menghindari gempuran belasan ledakan.

Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko menyampaikan kondisi krisis yang dihadapi para korban di lokasi kejadian saat serangan berlangsung.

"Orang-orang terjebak di tempat lain saat Moskow menghantam fasilitas non-perumahan dan apartemen, gudang, serta rumah sakit anak-anak," kata Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko.

Eskalasi militer ini terjadi di tengah stagnasi jalur diplomasi antara pihak-pihak yang bertikai. Meskipun Pemerintah Ukraina telah menyerahkan proposal perdamaian kepada negosiator Amerika Serikat, belum ada pembahasan tatap muka yang terealisasi di Kyiv.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova memberikan tanggapan resmi terkait dinamika perundingan tersebut.

"Namun Moskow akan siap untuk mengatur pertemuan dalam waktu singkat," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova.

Di sisi lain, intensifikasi penggunaan senjata udara oleh Rusia dan potensi keterlibatan Iran meningkatkan kekhawatiran di kalangan analis pertahanan Eropa. Inggris dinilai menghadapi celah kerentanan pertahanan udara dari potensi serangan drone murah maupun rudal akibat keterbatasan sistem meriam antipesawat dan rudal permukaan-ke-udara.

Sejumlah negara tetangga di Eropa seperti Swedia dan Jerman telah mempercepat pengadaan sistem radar serta meriam antipesawat bernilai miliaran euro. Namun, keterbatasan kapasitas produksi senjata global membuat proses pemenuhan sistem pertahanan udara membutuhkan waktu hingga lebih dari dua tahun.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed