Konflik AS-Iran Dorong Harga Minyak Mendekati 100 Dollar AS per Barel

Smallest Font
Largest Font

Harga minyak dunia melonjak hingga mendekati 100 dollar AS per barel pada awal September 2026 setelah serangan militer yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk Persia.

Kenaikan ini dipicu oleh serangan Iran terhadap Kuwait yang mencegat rudal dan drone, menimbulkan kekhawatiran atas keamanan pasokan minyak terutama di Selat Hormuz.

Harga minyak Brent naik menjadi 96,20 dollar AS per barel, bahkan sempat menyentuh 97 dollar AS, sedangkan minyak WTI AS meningkat ke 91,86 dollar AS per barel, menunjukkan penguatan lebih dari 7 persen sepanjang pekan, dilansir Kompas.com dan Reuters.

Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan bahwa lebih dari 17 juta barrel minyak melewati Selat Hormuz pada 1 September 2026, rekor tertinggi sejak perang pecah pada Februari 2026.

"Lebih dari 17 juta barrel minyak melintasi Hormuz pada Senin," kata Wright kepada CNBC.

Serangan militer AS pada Selasa menyasar fasilitas Korps Garda Revolusi Islam Iran, termasuk pertahanan udara dan situs komunikasi, sebagai upaya melemahkan kemampuan Iran mengganggu lalu lintas pelayaran minyak.

Garda Revolusioner Iran merespons dengan menargetkan posisi militer AS di beberapa negara seperti Yordania dan Irak, media pemerintah Iran melaporkan sebagai tindakan balasan.

Presiden AS Donald Trump menyatakan konflik ini tidak akan berlangsung lama.

"Menurut saya, tidak akan lama lagi," ujar Trump. "Saya tidak tahu berapa lama lagi mereka bisa bertahan," tambahnya.

Konflik ini menyebabkan pasar saham Asia-Pasifik melemah pada awal September, termasuk indeks Nikkei Jepang turun 1,60% dan Kospi Korea Selatan anjlok 2,87%, mengikuti penurunan Wall Street atas kekhawatiran harga minyak tinggi dan imbal hasil obligasi yang naik, dilaporkan CNBC Indonesia.

Thierry Wizman, ahli strategi di Macquarie Group, mengatakan bahwa imbal hasil obligasi yang lebih tinggi memberi tekanan terhadap pasar saham dengan menurunkan rasio harga terhadap pendapatan.

"Imbal hasil yang lebih tinggi terbukti menjadi penyebab kehancuran pasar saham," kata Wizman.

Harga minyak mentah Brent sempat melampaui 100 dollar AS per barel pada puncak ketegangan sebelumnya dan terus berfluktuasi sejak pecahnya perang antara AS dan Iran pada Februari 2026, menurut laporan dari sumsel.akurat.co.

Kenaikan harga minyak berlanjut setelah AS menyerang acara pernikahan warga sipil di Sirik, Iran, yang diperkuat dengan laporan Reuters tentang serangan militer AS yang menyasar berbagai fasilitas militer Iran.

Pasokan minyak global sangat bergantung pada Selat Hormuz yang menjadi jalur utama ekspor minyak, sehingga setiap gangguan di wilayah ini berpotensi berdampak signifikan pada pasar energi dunia.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed