Singapura Siapkan 300 Pusat Pendingin Hadapi Gelombang Panas
Singapura menyiapkan lebih dari 300 pusat pendingin di berbagai wilayah sebagai antisipasi gelombang panas yang diperkirakan semakin sering terjadi, dilansir dari Detik Travel.
Pusat pendingin ini berada di pusat komunitas, Residents' Committee (RC), Residents' Network (RN), dan gedung olahraga dalam ruangan, lengkap dengan pendingin udara dan tempat duduk.
Lokasi pusat pendingin akan diumumkan saat rencana penanganan gelombang panas diaktifkan, dengan peringatan diberikan melalui aplikasi cuaca nasional myENV minimal empat hari sebelumnya.
Calvin Chong, Direktur Divisi Kebijakan Energi dan Iklim Kementerian Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, mengatakan kelompok rentan seperti warga lanjut usia akan diprioritaskan saat kapasitas pusat pendingin hampir penuh.
"Jika sebuah pusat hampir penuh, prioritas akan diberikan kepada kelompok rentan, seperti warga lanjut usia," ujar Chong.
Chong menjelaskan Singapura menghadapi "double whammy" atau pukulan ganda cuaca panas akibat musim monsun barat daya yang kering bersamaan dengan fenomena El Nino yang menyebabkan suhu lebih panas dan kering.
Menurut data National Environment Agency (NEA), sepanjang 2026 terdapat 17 hari dengan tekanan panas tinggi, meningkat dari lima hari pada periode sama tahun sebelumnya.
Singapura mendefinisikan gelombang panas saat suhu maksimum harian rata-rata mencapai 35 derajat Celsius selama tiga hari berturut-turut dengan suhu rata-rata harian minimal 29 derajat Celsius.
NEA memperingatkan suhu ekstrem masih mungkin terjadi saat El Nino melemah antara Maret hingga Mei 2027, bertepatan dengan masa terpanas di Singapura.
"Hal itu sedang kami pelajari dengan sangat dekat, dan kami siap mengaktifkan rencana respons gelombang panas jika mencapai tingkat tersebut," lanjut Chong.
Singapura terakhir mengalami gelombang panas pada April 2016 saat El Nino kuat berakhir. Pada awal 2025, pemerintah memperkenalkan rencana nasional pertama untuk menghadapi gelombang panas.
Saat gelombang panas terjadi, sekolah dapat mengadakan pembelajaran dari rumah dan prasekolah serta panti jompo dihimbau menghentikan aktivitas luar ruangan antara pukul 11.00-16.00 waktu setempat.
Kementerian Keberlanjutan dan Lingkungan membentuk Heat Resilience Policy Office yang dipimpin Chong untuk memperkuat penanganan gelombang panas, memperhatikan dampak panas terhadap kesehatan dan produktivitas.
Kantor ini juga akan melibatkan jaringan komunitas untuk memantau kelompok rentan dan mengarahkan mereka ke pusat pendingin terdekat.
"Ada batasan seberapa banyak siaran umum dan peringatan melalui myENV yang bisa kami lakukan. Mungkin sebagian ketimpangan dalam penanganan akan muncul di tingkat lokal," ujar Chong.
Pemerintah Singapura berencana menyusun strategi ketahanan panas yang mencakup aspek infrastruktur, kesehatan, ekonomi, dan sosial. Dana penelitian senilai 40 juta dolar Singapura akan dibuka pada akhir 2026.
"Kami dapat membangun pengetahuan mengenai cara memahami panas dari konteks Singapura dan menghasilkan langkah-langkah intervensi yang berarti. Hal itu juga akan bermanfaat bagi kawasan sekitar," pungkas Chong.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow