Spanyol Deportasi Ribuan Migran yang Menerobos Eksklave Ceuta

Smallest Font
Largest Font

Pemerintah Spanyol mengendalikan krisis migrasi di eksklave Ceuta setelah sekitar 60.000 migran asal Maroko menerobos wilayah perbatasan Afrika Utara tersebut pada akhir Juli 2026. Insiden penyeberangan massal melintasi laut dan pagar perbatasan ini menewaskan sedikitnya 57 orang.

Sebagai langkah penanganan, otoritas Spanyol mempercepat pemulangan massal dan memasang barikade terapung sepanjang 500 meter di kawasan Pantai Tarajal. Hingga Jumat (30/7/2026), sebanyak 48.300 orang telah dipulangkan ke Maroko, termasuk 25.000 migran yang dideportasi pada tahap awal pemulangan cepat.

Sebagian besar korban tewas akibat tenggelam saat berenang mengitari pemecah gelombang, sementara korban lainnya meninggal karena terhimpit di pagar perbatasan. Selain itu, keterbatasan logistik dan pengetatan keamanan membuat puluhan ribu migran memilih kembali secara sukarela.

Gelombang migrasi besar-besaran ini dipicu oleh disinformasi di media sosial mengenai syarat program regularisasi migran tanpa dokumen di Spanyol, serta kabar keliru terkait putusan Mahkamah Agung Spanyol mengenai penolakan di perbatasan.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menegaskan komitmen pemerintah dalam menindak tegas penyeberangan ilegal tersebut usai meninjau lokasi krisis di Ceuta.

"Sejujurnya saya sendiri tidak tahu kenapa saya datang ke sini, dan sekarang saya pulang," kata seorang pemuda asal Tangier dilansir dari Reuters.

Ia menceritakan kondisi sulit yang dialami para migran di lokasi kejadian.

"Sejak makan siang kemarin saya belum makan lagi, padahal saya membawa sedikit uang. Apa yang kami lakukan ini bukan sesuatu yang baik, juga tidak menyenangkan," lanjut pemuda tersebut.

Kondisi serupa dialami oleh migran lain yang bertahan di dalam wilayah eksklave Spanyol tersebut.

"Tidak ada makanan di dalam Ceuta, dan kami diusir dengan kasar oleh tentara Spanyol," kata Ayman, tukang cukur berusia 20 tahun dari Larache.

Merespons situasi krisis di wilayah perbatasan, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez memberikan pernyataan resmi mengenai langkah penanganan pemerintah.

"Kami mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk merespons situasi ini," kata Sanchez dilansir dari Kumparan.

Ia juga menyoroti peran sindikat penyelundup manusia di balik lonjakan jumlah migran.

"Mafia perdagangan manusia telah menggunakan penafsiran mementingkan diri sendiri atas putusan Mahkamah Agung," ujar Sanchez.

Krisis migrasi ini mendapat perhatian serius dari Uni Eropa. Italia menangguhkan sementara Perjanjian Schengen dengan Spanyol, sementara Prancis meningkatkan jumlah polisi perbatasan hingga lima kali lipat.

"Penyeberangan berbahaya harus segera dihentikan. Jaringan penyelundupan harus dibongkar, dan proses pengembalian migran harus dilakukan dengan cepat sesuai aturan," kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Di sisi Maroko, ribuan migran yang tiba di kota perbatasan Fnideq tertahan setelah jalur utama ditutup rapat oleh aparat keamanan gabungan.

"Saya terlambat," kata Brahim, pria berusia 32 tahun dari Tangier.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed