Thibaut Courtois Bahas Masa Depan di Real Madrid dan Timnas Belgia

Smallest Font
Largest Font

Kiper Real Madrid, Thibaut Courtois, mengisyaratkan rencana pensiun dari Timnas Belgia setelah turnamen Piala Dunia 2026 usai sekaligus menyatakan keinginannya untuk mengakhiri karier sepak bola profesional di klubnya saat ini.

Pernyataan tersebut disampaikan menjelang pertandingan perdana Grup G melawan Mesir di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, seperti dilansir dari laporan bola.kompas.com pada Jumat, 12 Juni 2026.

Langkah regenerasi menjadi salah satu pertimbangan utama bagi penjaga gawang berusia 34 tahun tersebut setelah mencatatkan 109 penampilan bersama negaranya sejak melakoni debut pada tahun 2011 silam.

"Saya tidak tahu apakah sekarang saat yang tepat untuk membicarakan masa depan, tetapi peluang saya untuk tidak melanjutkan karier di tim nasional setelah turnamen ini lebih besar daripada peluang untuk terus bermain," kata Courtois kepada wartawan, Kamis (11/6/2026), waktu AS, dikutip dari CNN.

Mantan pemain Atletico Madrid ini menambahkan bahwa keputusan akhir mengenai kelanjutan karier internasionalnya akan dievaluasi kembali setelah kompetisi selesai melalui diskusi bersama tim medis, pelatih, serta direktur teknis Vincent Mannaert.

"Saya masih ingin bermain beberapa tahun lagi. Namun, Anda juga harus menjaga kondisi tubuh. Keluarga saya berada di sini karena ini bisa menjadi turnamen terakhir saya," ujarnya.

Kondisi fisik yang sempat terganggu akibat cedera paha depan pada musim lalu serta cedera ligamen krusiatum sebelumnya turut memengaruhi pandangan sang pemain mengenai masa depannya.

"Jika kami menjalani Piala Dunia yang bagus, tentu saja itu bisa menjadi pertimbangan. Selain itu, saya juga masih merasakan atmosfer yang baik di dalam tim," kata dia.

Courtois juga menilai bahwa saat ini skuad De Rode Duivels sudah memiliki stok penjaga gawang muda potensial yang siap menggantikan posisinya di masa depan.

"Saat jeda internasional, saya menyadari bisa mendapatkan waktu istirahat dan bekerja lebih tenang di gym," ujar Courtois.

Manfaat dari masa istirahat tersebut dirasakan Courtois ketika ia sempat melewatkan beberapa panggilan agenda internasional pada masa kepemimpinan pelatih Belgia sebelumnya, Domenico Tedesco.

"Dalam satu setengah tahun terakhir saya juga mengalami beberapa masalah fisik dan cedera ringan. Hal-hal seperti itu membuat Anda lebih sering memikirkan masa depan," tuturnya.

Meskipun demikian, Courtois menegaskan bahwa fokus jangka pendeknya adalah membawa Belgia tampil maksimal menghadapi persaingan di Grup G melawan Mesir, Iran, dan Selandia Baru.

"Saya mulai mempertimbangkan untuk menyerahkan tongkat estafet. Kami memiliki banyak talenta muda seperti Senne Lammens dan Mike Penders," tuturnya.

Kesiapan fisik dan mental dipastikan telah mencapai level terbaik setelah melalui proses pemulihan intensif agar bisa tampil maksimal di ajang empat tahunan tersebut.

"Saya sangat bersemangat, sama seperti pemain lainnya. Kondisi saya sangat baik dan saya tidak sabar untuk bermain," kata Courtois, dilansir Reuters.

Di tingkat klub, situasi Courtois bersama Real Madrid ikut menjadi sorotan menyusul kembalinya pelatih Jose Mourinho ke Santiago Bernabeu pada Kamis, 11 Juni 2026, yang dilaporkan oleh viva.co.id.

"Cedera itu sangat disayangkan karena saat itu saya merasa hampir tidak bisa dihentikan. Namun sekarang saya siap mempertahankan level permainan saya dan tetap fokus," ujar Courtois.

Dalam konferensi pers bersama tim nasional yang dikutip goal.com, Courtois memaparkan bahwa kebijakan manajemen Real Madrid mengharuskan evaluasi kontrak tahunan bagi pemain di atas usia 30 tahun.

"Di Real Madrid, kebijakan klub mengharuskan perpanjangan kontrak dilakukan tahun demi tahun begitu pemain mencapai usia 30 tahun. Oleh karena itu, saya sama sekali tidak khawatir mengenai hal ini. Jika saya terus tampil dengan level yang sama seperti saat ini, perpanjangan kontrak tidak akan menjadi masalah.

Namun, Real Madrid adalah klub elit, dan pada suatu saat, mereka juga harus memikirkan pengganti saya. Bagi saya, pilihan idealnya adalah bisa mengakhiri karier di Madrid," kata Thibaut Courtois.

Pemain bernomor punggung satu ini juga membagikan kisah masa lalunya saat bekerja di bawah arahan Mourinho sewaktu keduanya masih membela Chelsea di Liga Inggris.

"Xabi Alonso juga menghubungi saya tahun lalu setelah menandatangani kontrak. Selain itu, semua pemain saat ini fokus terutama pada Piala Dunia; dan klub mempertimbangkan hal ini," tambah Courtois.

Courtois mengenang bagaimana gaya kepemimpinan tegas dari pelatih asal Portugal tersebut justru berhasil memicu motivasi bertandingnya setelah sempat dicadangkan.

"Hubungan kami kadang-kadang mengalami ketegangan (tertawa). Misalnya, dia menempatkan saya di bangku cadangan dalam pertandingan melawan Everton karena saya melakukan dua umpan silang dari sayap dalam pertandingan sebelumnya melawan Aston Villa. Itu caranya untuk memotivasi saya.

Dan di pekan berikutnya, saya kembali menjadi kiper melawan West Ham dan melakukan lima atau enam penyelamatan krusial. Mourinho adalah pelatih yang sangat langsung, dan saya juga begitu. Jadi, hubungan kami selalu sangat baik," jelas Courtois.

Pengalaman menghadapi cedera berat di masa lalu diakui memberikan perspektif baru bagi dirinya untuk merencanakan masa depan setelah gantung sepatu.

“Kami juga sesekali berselisih. Misalnya, dia mendudukkan saya di bangku cadangan saat melawan Everton karena saya telah mengirimkan dua umpan silang dari sayap pada pertandingan sebelumnya melawan Aston Villa. Itu adalah caranya untuk memprovokasi saya,” kata Courtois.

Hubungan komunikasi yang sangat terbuka membuat dinamika kerja antara dirinya dan Mourinho tetap berjalan harmonis hingga saat ini.

“Minggu berikutnya, saya kembali ke gawang melawan West Ham dan melakukan lima atau enam penyelamatan penting. Mourinho adalah pelatih yang sangat lugas. Hubungan kami selalu sangat baik,” ujarnya.

Masa jeda kompetisi akibat cedera parah disebutnya memberikan keuntungan tersendiri untuk membangun kembali kekuatan fisik tanpa tekanan jadwal tanding.

“Ketika saya mengalami cedera ligamen krusiatum, saya mulai memikirkan masa depan, karena saya merasa bahwa momen-momen istirahat itu memberi saya kekuatan,” tutur Courtois.

Penjaga gawang utama Los Blancos ini menutup keterangannya dengan menegaskan bahwa target utamanya saat ini adalah menjaga performa agar tetap layak berada di level tertinggi.

“Jika saya terus tampil seperti yang telah saya lakukan sejauh ini, perpanjangan kontrak tidak akan menjadi masalah. Tetapi Real Madrid adalah klub papan atas dan, pada suatu saat, mereka juga harus memikirkan pengganti. Bagi saya, yang ideal adalah dapat mengakhiri karier saya di Madrid,” kata Courtois.

Ketika mengalami robekan ligamen cruciatum, saya mulai memikirkan masa depan, karena saya merasa masa istirahat itu memberi saya kekuatan. Tidak ada tekanan untuk bermain, misalnya, empat pertandingan penting di Liga Champions dalam dua minggu. Saya bisa pergi ke gym untuk memulihkan tubuh saya. Dan bahkan ketika saya tidak dipanggil oleh mantan pelatih tim nasional, saya menyadari bahwa saya pulih dengan baik selama periode-periode itu.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed