Thomas Tuchel Bela Strategi Inggris Usai Kalah dari Argentina
Manajer Tim Nasional Inggris Thomas Tuchel membela perubahan strategi dan susunan pemainnya setelah skuad Tiga Singa menelan kekalahan dramatis 1-2 dari Argentina dalam laga semifinal Piala Dunia 2026 di Stadion Atlanta pada Rabu (15/7/2026).
Keputusan taktis Tuchel untuk menerapkan formasi bertahan demi menjaga keunggulan 1-0 justru runtuh setelah Lionel Messi mencetak dua umpan matang bagi gol Enzo Fernandez pada menit ke-85 dan sundulan Lautaro Martinez di masa injury time. Berdasarkan data statistik dari Opta yang dilansir Fox Sports, Argentina bahkan mendominasi penguasaan bola hingga 88 persen selama 38 menit terakhir setelah Inggris mencetak gol pembuka lewat Anthony Gordon pada menit ke-55.
"They won every header. They kept crossing and crossing. So we went to a back five to close the gaps inside and be stronger in the air," ujar Thomas Tuchel, Manajer Inggris.
Tuchel memutuskan menarik keluar gelandang Declan Rice dan bek Reece James untuk digantikan oleh Nico O’Reilly serta Dan Burn pada menit ke-82 demi menahan gempuran udara lawan.
"Straight after our goal, with no substitutions, we just conceded way too many crosses and way too many chances. So we tried to help," kata Thomas Tuchel, Manajer Inggris.
Mantan pelatih Chelsea tersebut menyadari bahwa kegagalan strategi bertahan ini akan memicu gelombang kritik yang panjang bagi kariernya.
"But of course the responsibility is on the coach. And … if it doesn’t go well, it’s easy to say that it was wrong," tutur Thomas Tuchel, Manajer Inggris.
Kekalahan ini membuat Inggris menyamai rekor buruk mereka sendiri pada Piala Dunia 2018 di Kroasia, sebagai tim yang gagal melaju ke final setelah mencetak gol lebih dulu di babak semifinal.
"It’s disappointing to give up the space that we did in those final 20 minutes," kata Harry Kane, Kapten Inggris.
Kane menilai kelonggaran ruang di lini pertahanan membuat para pemain Argentina semakin percaya diri untuk mengirimkan bola-bola berbahaya ke kotak penalti.
"It allowed not just (Messi), but the other players to grow into the game and feel more confident and ping balls into dangerous areas. In the end, it was too much for us to stop," ucap Harry Kane, Kapten Inggris.
Di kubu lawan, para pemain Argentina menganggap taktik bertahan total yang diterapkan oleh tim Inggris menjadi keuntungan tersendiri bagi Albiceleste.
"They got tired," kata Lautaro Martinez, Penyerang Argentina.
Martinez menilai tekanan konstan yang ditunjukkan skuad Inggris hanya bertahan selama 60 menit sebelum akhirnya kehabisan stamina.
"They pressed for 60 minutes and then just ran out of steam. They got their goal and then sat back. That gave us more composure to move the ball around and stretch the pitch," ujar Lautaro Martinez, Penyerang Argentina.
Kegagalan strategi ini juga dirasakan langsung oleh bek jangkung Dan Burn yang masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua.
"Off the ball, we defended probably a little bit too deep," kata Dan Burn, Bek Inggris.
Pemain bertinggi dua meter itu merasa pertahanan Inggris terlalu dalam sehingga gol dari Argentina hanya tinggal menunggu waktu.
"With the quality of chances that Argentina were creating, I felt like it was a matter of time. ... To be 10 to 15 minutes away from the World Cup final — we really probably should have seen that through," tutur Dan Burn, Bek Inggris.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow