Tiffney Tyara Setyoko dan Rangga Kusuma Sabet Juara Pilmapres 2026

Smallest Font
Largest Font

Mahasiswi Universitas Pelita Harapan (UPH) Tiffney Tyara Setyoko dan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rangga Kusuma Putra berhasil meraih Juara 1 dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat Nasional 2026 di Universitas Multimedia Nusantara, Banten, pada 4–8 Agustus 2026.

Ajang berskala nasional yang digelar oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tersebut mencatatkan sejarah baru. Tiffney mencatatkan diri sebagai mahasiswa dari perguruan tinggi swasta pertama yang menjuarai kategori Sarjana sejak ajang ini digelar pada 2014, sementara Rangga menjadi pemenang perdana pada kategori baru, yakni Mahasiswa Disabilitas Berprestasi.

Kompetisi tahunan ini diikuti oleh 54 finalis dari 31 perguruan tinggi yang terdiri dari 19 finalis Program Sarjana, 19 finalis Program Diploma, serta 16 finalis Kategori Mahasiswa Disabilitas Berprestasi. Seluruh peserta telah melalui seleksi ketat di tingkat kampus, 17 wilayah Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI), hingga tingkat nasional.

Kemenangan Tiffney, mahasiswi Fakultas Kedokteran UPH angkatan 2023, diraih berkat gagasan inovatif Smart Febrile Patch. Inovasi sensor non-invasif berbasis keringat ini dirancang untuk mendeteksi tingkat keparahan penyakit infeksi bergejala demam secara dini, yang terinspirasi dari tingginya kasus penyakit infeksi suspek di Kabupaten Tangerang pada Juni 2025.

Inovasi medis tersebut mendapat perhatian dari Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 Bambang Soesatyo. Menurutnya, gagasan Tiffney relevan dengan strategi penanganan krisis resistensi antibiotik global yang juga menjadi perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Prestasi Tiffney Tyara Setyoko patut kita apresiasi setinggi-tingginya. Ia telah menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia, termasuk dari perguruan tinggi swasta, memiliki kapasitas akademik, daya pikir kritis, kemampuan riset, kreativitas, serta keberanian berinovasi yang mampu bersaing di tingkat nasional. Ini sekaligus menjadi pesan bahwa kualitas sumber daya manusia tidak boleh diukur semata dari asal perguruan tingginya, melainkan dari karya, kompetensi, integritas, dan dampak yang mampu diberikan kepada masyarakat," ujar Bamsoet pada keterangan tertulis, Senin (10/8/26).

Ia menyoroti tahapan ketat yang berhasil dilalui Tiffney dari tingkat wilayah hingga nasional.

"Yang membuat prestasi ini semakin penting adalah proses panjang yang dilalui Tiffney. Dari ratusan mahasiswa yang mengikuti seleksi di 17 wilayah LLDIKTI, sebanyak 60 mahasiswa kemudian melaju ke tingkat nasional dan akhirnya tersaring menjadi 19 finalis. Artinya, untuk menjadi juara diperlukan kombinasi antara prestasi akademik, kemampuan berpikir, gagasan yang relevan, komunikasi yang kuat, kepemimpinan, serta kesiapan menghadapi persoalan nyata. Tiffney berhasil memenuhi seluruh tantangan tersebut," kata Bamsoet.

Mengenai perangkat sensor yang digagas, mantan Ketua DPR RI tersebut menilai hasilnya dapat berdampak besar bagi penanganan medis masyarakat.

"Smart Febrile Patch memperlihatkan bagaimana persoalan sehari-hari dapat menjadi pintu masuk sebuah inovasi. Teknologi kesehatan semestinya diarahkan untuk membuat masyarakat lebih cepat mengenali kondisi tubuhnya dan mengambil keputusan yang tepat. Jika gagasan ini kelak dapat dikembangkan melalui penelitian dan uji klinis yang memadai, manfaatnya berpotensi besar, terutama dalam mendukung skrining awal dan membantu tenaga kesehatan memperoleh informasi tambahan sebelum menentukan langkah pemeriksaan maupun penanganan berikutnya," jelas Bamsoet.

Ia menambahkan pentingnya inovasi ini dalam mencegah penggunaan obat secara keliru di tengah masyarakat.

"Ketika diagnosis terlambat atau informasi awal mengenai kondisi pasien terbatas, ada risiko masyarakat melakukan pengobatan sendiri atau menggunakan antibiotik secara tidak tepat. Karena itu, inovasi diagnostik dan skrining dini harus menjadi bagian dari strategi kesehatan nasional. WHO sendiri menempatkan pengembangan tes cepat di titik layanan untuk membedakan infeksi bakteri dan virus sebagai salah satu prioritas dalam menghadapi resistensi antimikroba," kata Bamsoet.

Di akhir pernyataannya, ia mendorong terciptanya kerja sama lintas sektor untuk menindaklanjuti karya riset mahasiswa.

"Prestasi Tiffney harus menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem riset kesehatan di Indonesia. Mahasiswa perlu diberi ruang untuk mengembangkan ide sejak di bangku kuliah, sementara perguruan tinggi, pemerintah, rumah sakit, industri, dan lembaga penelitian harus membangun jembatan agar gagasan tersebut dapat bergerak dari ruang kompetisi menuju laboratorium, uji lapangan, uji klinis, hingga apabila terbukti aman dan efektif dapat diimplementasikan secara luas," pungkas Bamsoet.

Tiffney sendiri mengungkapkan rasa syukur atas capaian yang berhasil ia raih bersama tim pendamping dari kampus.

“Puji Tuhan, saya sangat bersyukur atas pencapaian ini. Saya percaya semua yang saya raih merupakan anugerah Tuhan dan tidak terlepas dari dukungan banyak pihak, terutama UPH yang terus mendampingi saya selama proses persiapan hingga tahap nasional. Bisa membawa nama UPH dan menjadi mahasiswa pertama yang meraih Juara 1 PILMAPRES Nasional tentu menjadi suatu kebanggaan sekaligus tanggung jawab bagi saya.

Pengalaman ini juga mengajarkan saya untuk terus belajar, berproses, dan memberikan yang terbaik dari setiap kesempatan yang Tuhan percayakan. Saya berharap pencapaian ini dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa UPH lainnya untuk berani mengembangkan potensi dan membawa dampak positif melalui bidang yang mereka tekuni,” ujar Tiffney.

Mengenai persiapan menuju babak final, ia menuturkan bahwa latihan intensif dilakukan untuk menghadapi penguji.

“Persiapannya cukup panjang dan intensif. Saya banyak berlatih untuk mematangkan gagasan, menyusun presentasi, menganticipasi pertanyaan juri, serta memperdalam materi untuk sesi wawancara dan Bahasa Inggris,” ujar Tiffney.

Sesi persiapan tersebut juga dimanfaatkan untuk memoles cara penyampaian materi di hadapan dewan juri.

“Persiapannya cukup panjang dan intensif. Saya banyak berlatih untuk mematangkan gagasan, menyusun presentasi, mengantisipasi berbagai pertanyaan juri, serta memperdalam materi untuk sesi wawancara dan Bahasa Inggris. Saya juga belajar menyampaikan ide dengan lebih terstruktur dan menghubungkannya dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Tiffney.

Tiffney menjelaskan fungsi teknis dari sensor yang dikembangkannya.

“Demam sering menjadi gejala awal infeksi, tetapi masyarakat belum memiliki parameter objektif untuk menentukan apakah kondisinya masih aman atau sudah memasuki fase kritis. Karena itu, saya mengembangkan patch yang mengukur biomarker fisiologis sebagai indikator untuk membantu melihat respons inflamasi dan kondisi fisiologis tubuh,” jelas Tiffney.

Pihak UPH memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas prestasi yang dicetak oleh mahasiswi Pendidikan Dokter tersebut.

“Pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi UPH sekaligus tonggak penting bagi perguruan tinggi swasta di Indonesia, serta membuktikan bahwa dengan talenta, kerja keras, pembinaan, dan dukungan yang tepat, mahasiswa perguruan tinggi swasta mampu meraih prestasi tertinggi di tingkat nasional. Kami juga mengapresiasi para dosen, orang tua, dan seluruh pihak yang telah mendampingi Tiffney, dan berharap pencapaian ini dapat menginspirasi mahasiswa UPH lainnya untuk terus mengembangkan potensi, membawa talenta mereka ke tingkat nasional maupun internasional, serta menghadirkan dampak nyata bagi komunitas, masyarakat, dan bangsa,” ungkap Dr. Andry M. Panjaitan, M.T., CPHCM., Associate Vice President Student Development, Alumni, and Corporate Relations UPH.

Sementara itu, Rangga Kusuma Putra dari Prodi Pendidikan Bisnis FEB UNJ menorehkan prestasi dalam kategori baru yang diperuntukkan bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

"Prestasi ini saya persembahkan untuk keluarga, dosen, teman-teman, dan seluruh sivitas akademika UNJ yang selama ini memberikan dukungan. Pilmapres mengajarkan saya bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk terus belajar, berinovasi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Saya berharap semakin banyak mahasiswa penyandang disabilitas yang percaya diri untuk mengembangkan potensi dan berkompetisi di berbagai ajang," ujar Rangga.

Pihak pimpinan UNJ turut menyampaikan rasa bangganya atas hasil yang didapat oleh mahasiswanya.

"Prestasi yang diraih Rangga menjadi kebanggaan bagi UNJ. Capaian ini menunjukkan bahwa kualitas, kerja keras, dan semangat belajar merupakan faktor utama dalam meraih prestasi. UNJ akan terus memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif sehingga setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat," kata Rektor UNJ Prof. Komarudin.

Pihak akademis UNJ menilai raihan tersebut sebagai buah dari pembinaan kemahasiswaan yang berkesinambungan.

"Pilmapres bukan hanya kompetisi untuk memilih mahasiswa terbaik, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa dalam mengembangkan kepemimpinan, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta kepedulian terhadap persoalan sosial. Prestasi Rangga menunjukkan bahwa pembinaan yang dilakukan di UNJ berjalan secara berkesinambungan dan mampu menghasilkan mahasiswa yang berdaya saing di tingkat nasional," ujar Prof. Ifan Iskandar, Wakil Rektor UNJ Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni.

Pihak direktorat kemahasiswaan UNJ juga berharap pencapaian ini menular ke mahasiswa lainnya.

"Keberhasilan ini merupakan hasil dari proses panjang yang dilalui Rangga sejak seleksi di tingkat universitas hingga nasional. Kami berharap prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa UNJ untuk terus berprestasi, berinovasi, dan aktif memberikan kontribusi kepada masyarakat. Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni akan terus memperkuat pembinaan agar semakin banyak mahasiswa UNJ yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional," ujar Yasep Setiakarnawijaya, Direktur Kemahasiswaan dan Alumni UNJ.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed