Trump Ancam Bom Oman Terkait Negosiasi Jalur Laut Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan memborbardir Oman jika negara Arab tersebut dinilai menghalangi potensi kesepakatan damai antara AS dan Iran. Pertikaian verbal ini mengemuka di tengah kebuntuan negosiasi Selat Hormuz setelah masa berlaku perjanjian sementara 60 hari berakhir pada Senin.
Eskalasi retorika tersebut mengancam hubungan diplomatik dan perdagangan AS-Oman yang telah terjalin selama hampir dua abad sejak Traktat Persahabatan dan Perdagangan 1833. Kendati pelabuhan dan infrastruktur energinya dihantam serangan balasan dalam perang AS-Israel lawan Iran hingga menewaskan 16 orang dan melukai 35 lainnya, Oman tetap memfasilitasi perundingan.
Ancaman militer secara terbuka disampaikan oleh pemimpin Amerika Serikat tersebut saat diwawancarai oleh jurnalis FOX News.
"Jika Oman menghalangi, kami akan memborbardir mereka habis-habisan," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pernyataan bernada keras ini mengulang ancaman serupa pada Mei lalu ketika meminta Muskat untuk patuh atau menghadapi aksi militer. Trump menekankan agar Oman bergabung dalam Perjanjian Abraham untuk memulihkan hubungan diplomatik dengan Israel.
"Kita harus meledakkan mereka," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Sikap keras AS memicu kritik balik dari pihak Muskat terkait kebijakan luar negeri Washington di kawasan Teluk.
"Secara eksplisit berusaha menggulingkan Republik Islam dan mungkin tidak peduli bagaimana negara itu diperintah," kata Sayyid Badr Albusaidi, Menteri Luar Negeri Oman.
Albusaidi menambahkan dalam artikelnya untuk The Economist bahwa meskipun serangan Iran ke wilayahnya sangat disayangkan, tindakan tersebut dipahami sebagai langkah rasional yang tersisa bagi Tehran. Pengamat politik menilai ancaman verbal terbaru ini bakal mengganggu stabilitas peran tradisional Oman sebagai mediator netral.
"Pernyataan Trump kecil kemungkinan mengubah secara mendasar hubungan AS-Oman yang mendalam, multidimensional, dan terinstitusionalisasi," kata Neil Quilliam, Analis Chatham House.
Namun, tekanan berulang berpotensi menyulitkan posisi Muskat dalam menjembatani komunikasi antara Washington dan Tehran.
"Namun, hal itu akan kembali menimbulkan keresahan di Muskat karena tampak menantang peran lama Oman sebagai mediator netral dengan Iran," ujar Neil Quilliam, Analis Chatham House.
Analis tersebut memperingatkan dampak jangka panjang bagi diplomasi kedua negara jika narasi serupa terus diulang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow