Trump Lanjutkan Sanksi Ekonomi Iran Setelah Negosiasi Buntu

Smallest Font
Largest Font

Presiden Amerika Serikat Donald Trump beralih dari operasi militer ke strategi tekanan ekonomi berkelanjutan terhadap Iran setelah konflik bersenjata yang berlangsung hampir enam bulan dan upaya diplomasi selama 60 hari mengalami kebuntuan.

Langkah tersebut diambil usai periode negosiasi nuklir berakhir pada 17 Agustus 2026 tanpa menghasilkan kesepakatan final. Keputusan serangan militer sebelumnya tetap dieksekusi Trump meski sempat mendapat peringatan dari intelijen AS terkait risiko krisis energi global dan penguatan kelompok garis keras Teheran.

Gedung Putih mengonfirmasi bahwa saat ini tidak ada pembicaraan atau negosiasi yang sedang berlangsung maupun dijadwalkan antara Washington dan Teheran. Pemerintah AS kini memfokuskan tindakan pada Operation Economic Outcast melalui sanksi serta blokade laut.

Dampak perang telah menewaskan sedikitnya 18 personel militer AS dan melukai 756 prajurit lainnya, selain menyebabkan kerusakan pangkalan AS di Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Penutupan Selat Hormuz oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) juga sempat memicu lonjakan harga bahan bakar dunia.

Laporan intelijen dan peringatan internal militer sebenarnya telah disampaikan sebelum operasi militer dimulai. Pejabat intelijen dan militer mengingatkan risiko korban jiwa, keterbatasan pasokan amunisi, serta potensi Iran menutup jalur pelayaran vital.

<"Pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran berpotensi memunculkan penerus yang lebih garis keras," kata Direktur Intelijen Nasional AS Tulsi Gabbard.

Peringatan intelijen tersebut menyoroti dampak geopolitik jangka panjang di kawasan Timur Tengah usai tewasnya Ali Khamenei yang kemudian digantikan oleh Mojtaba Khamenei.

<"Langkah tersebut juga dinilai dapat mendorong Iran menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia," bunyi laporan The Wall Street Journal.

Di tingkat internal pemerintahan AS, terdapat perbedaan pandangan mengenai efektivitas opsi militer dibandingkan jalur negosiasi. Wakil Presiden AS mendorong opsi diplomasi guna menekan biaya dan risiko konflik.

<"Pendekatan yang lebih 'hati-hati' dengan mengutamakan negosiasi akan membutuhkan biaya lebih rendah dibandingkan perang yang dapat membawa 'konsekuensi tak terkendali'," kata Wakil Presiden AS JD Vance.

Meskipun demikian, Trump memilih mengotorisasi serangan setelah mendapat paparan opsi militer dari Pentagon. Keterlibatan militer tersebut terus mendapat sorotan dari kalangan ahli strategi perang.

<"Kemenangan militer telah hilang," kata ahli strategi Angkatan Darat AS ML Cavanaugh.

Analisis militer menunjukkan bahwa keunggulan armada bersenjata tidak serta-merta menjamin tercapainya tujuan politik strategis dalam konflik modern. Di sisi lain, pemerintah Iran tetap mengklaim kemenangan dalam krisis ini.

<"Iran telah memenangkan perang sekaligus diplomasi," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Situasi di Selat Hormuz saat ini masih memicu perbedaan laporan antara klaim pemerintah AS dan data pelayaran internasional. Gedung Putih menyatakan jalur laut telah dibersihkan dari ranjau, sementara data Reuters mencatat penurunan drastis lalu lintas kapal komersial di kawasan tersebut.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed