Trump Pakai Truk Katering Pindah Pesawat Akibat Ancaman Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump terungkap diam-diam berpindah dari pesawat Air Force One ke pesawat militer C-32A menggunakan truk katering bandara saat meninggalkan KTT NATO di Ankara, Turki, pada Juli lalu akibat ancaman pembunuhan dari Iran.
Operasi pengelabuan tersebut dilaporkan oleh The Washington Post pada Senin (10/8/2026) berdasarkan keterangan seorang pejabat Amerika Serikat dan sejumlah sumber terkait. Langkah ini diambil usai Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara terhadap Iran setelah kegagalan negosiasi kedua negara.
Trump awalnya tiba di Ankara pada 8 Juli menggunakan pesawat Boeing 747 hibah dari keluarga kerajaan Qatar yang baru saja dimodifikasi. Namun, saat hendak meninggalkan Turki, Trump tampak menaiki pesawat Air Force One versi lama berwarna biru muda demi memicu pengecohan.
Beberapa menit setelah menaiki tangga pesawat lama tersebut, Trump dipindahkan secara rahasia memakai kontainer truk katering menuju pesawat militer C-32A yang berukuran lebih kecil. Manuver ini disembunyikan dari publik, jurnalis kepresidenan, hingga mayoritas staf Gedung Putih.
Para wartawan di dalam pesawat lama bahkan diperintahkan untuk menutup tirai jendela kabin pers selama penerbangan, sebuah prosedur khusus yang lazim diterapkan di zona perang.
Pesawat militer C-32A yang membawa Trump mendarat di pangkalan udara RAF Mildenhall di Inggris pada pukul 22.20 waktu setempat. Sementara itu, pesawat Air Force One lama yang mengangkut rombongan media tiba beberapa menit setelahnya.
Penggunaan pesawat lama tersebut sempat memicu sorotan terkait keamanan pesawat baru hibah Qatar. Laporan The New York Times menyebut pesawat baru tersebut belum memiliki fitur pertahanan selengkap model lama, seperti sistem pertahanan antirudal.
Gedung Putih melalui Direktur Komunikasi Steven Cheung memberikan tanggapan resmi untuk membela prosedur penyamaran dan membantah tuduhan kelemahan sistem keamanan pada pesawat anyar tersebut.
"Air Force One yang baru merupakan pesawat canggih yang telah dilengkapi protokol keamanan tingkat tinggi untuk memastikan keselamatan Presiden dan stafnya," kata Steven Cheung, Direktur Komunikasi Gedung Putih.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa prioritas utama adalah menanggulangi setiap potensi bahaya yang mengarah kepada kepala negara.
"Sebagaimana disampaikan Presiden baru-baru ini, ada banyak musuh Amerika yang mengincar dirinya, dan kami mengerahkan segala sarana yang tersedia untuk menghadapi ancaman-ancaman tersebut," ujar Steven Cheung.
Operasi pengelabuan pesawat kepresidenan serupa pernah dilakukan Pemerintah Amerika Serikat pada tahun 2000, ketika Presiden Bill Clinton menggunakan jet eksekutif tanpa tanda khusus menuju Pakistan dan menjadikan Air Force One sebagai pengalih perhatian.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow