Trump Bertemu Xi Jinping di Tengah Tekanan Ekonomi Domestik AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadiri jamuan makan malam kenegaraan dan melakukan negosiasi intensif dengan pemimpin China Xi Jinping di Beijing pada Kamis, 14 Mei 2026. Pertemuan tingkat tinggi ini terjadi di tengah kuatnya ekonomi AS yang didorong sektor AI, namun terhambat oleh rekor terendah sentimen konsumen akibat lonjakan harga bahan bakar.
Data ekonomi menunjukkan ketimpangan antara pertumbuhan PDB AS sebesar 2 persen pada kuartal pertama dengan kondisi psikologis pemilih yang tertekan inflasi kebutuhan pokok. Sementara itu, ekonomi China masih berjuang memulihkan diri dari dampak keruntuhan sektor properti lima tahun lalu dan ancaman deflasi yang berkepanjangan.
Keterbatasan posisi tawar Trump diperparah oleh tekanan politik menjelang pemilihan paruh waktu bulan November mendatang. Pakar ekonomi dari Universitas Johns Hopkins, Steve H. Hanke, memberikan analisis mengenai situasi diplomasi yang dihadapi oleh Presiden ke-47 Amerika Serikat tersebut di hadapan Xi Jinping.
"Xi is well aware of the fact that Trump has very little leverage," kata Steve H. Hanke, Profesor Ekonomi Terapan di Universitas Johns Hopkins.
Hanke menjelaskan bahwa Beijing memahami retorika ancaman dan sanksi yang dilemparkan Trump tidak mendapat dukungan penuh dari pemilih domestik AS. Hal ini memberikan ruang bagi China untuk tetap pada strategi jangka panjangnya tanpa harus tunduk pada tuntutan perdagangan jangka pendek.
"Xi knows that Trump’s threatening rhetoric and imposition of sanctions and tariffs are not playing well with American voters," ujar Steve H. Hanke, mantan anggota Dewan Penasihat Ekonomi Presiden Ronald Reagan.
Dampak ekonomi dari kebijakan tarif juga menjadi perhatian serius bagi para pengamat finansial global. CEO deVere, Nigel Green, menyoroti bagaimana sensitivitas pemilih terhadap harga pasar membatasi ruang gerak Trump dalam memaksa kesepakatan dagang baru.
"If tariffs lift prices, hit markets or disrupt supply chains, voters feel it quickly," kata Nigel Green, CEO deVere.
Sentimen ekonomi yang rendah di dalam negeri diperkirakan akan menahan agresivitas Washington dalam menekan Beijing. Green menekankan bahwa kekhawatiran terhadap gejolak pasar lebih mendominasi pertimbangan politik saat ini.
"Low economic sentiment at home will likely limit how aggressively he pushes," ujar Nigel Green, pimpinan perusahaan penasihat keuangan tersebut.
Di sisi lain, China telah memperkuat posisinya dengan membatasi ekspor logam tanah jarang (rare earths) yang sangat dibutuhkan AS untuk membangun kembali stok senjata pasca-perang Iran. Joe Mazur dari konsultan Trivium China menilai Beijing memiliki kesiapan yang matang jika negosiasi ini menemui jalan buntu.
"China is relatively confident in its position even if talks fail," kata Joe Mazur, Analis Senior di Trivium China.
Keyakinan ini didasarkan pada keberhasilan taktik balasan yang diterapkan China tahun lalu, termasuk pengenaan tarif timbal balik. China juga mulai mengaktifkan undang-undang tahun 2021 yang melarang entitas mereka mematuhi sanksi sepihak dari Amerika Serikat.
Kondisi pasar saat ini juga mencatat harga bensin di Amerika Serikat telah menembus angka 4 dolar AS per galon. Pihak Gedung Putih hingga kini masih berupaya menyeimbangkan narasi keberhasilan ekonomi dengan realitas biaya hidup yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow