UEA Kutuk Serangan Iran pada Dua Kapal Minyak di Selat Hormuz

Smallest Font
Largest Font

Uni Emirat Arab (UEA) mengutuk serangan yang diduga dilakukan oleh Iran terhadap dua kapal minyak milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) yang melintas di Selat Hormuz pada Kamis malam, 13 Agustus 2026.

Kementerian Luar Negeri UEA menyebut serangan itu sebagai aksi permusuhan dan menegaskan tidak ada korban luka dalam insiden tersebut, sebagaimana dilansir AFP dan Al Jazeera, Jumat (14/8/2026).

Menurut laporan ADNOC, dua kapal miliknya diserang saat melintasi jalur vital itu, namun situasi saat ini telah berhasil dikendalikan, sebagaimana dikonfirmasi oleh kantor berita resmi UEA, WAM.

Kementerian Luar Negeri UEA secara khusus menuding Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai pelaku serangan yang disebut sebagai aksi pembajakan dengan tujuan tekanan ekonomi dan pemerasan menggunakan Selat Hormuz.

"Uni Emirat Arab mengutuk keras dan mengecam serangan permusuhan Iran yang menargetkan dua kapal yang berafiliasi dengan ADNOC saat mereka melintasi Selat Hormuz,"

ujar pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri UEA.

Serangan ini merupakan insiden kedua yang menimpa kapal ADNOC dalam waktu kurang dari seminggu. Sebelumnya, pada Sabtu (8/8), UEA juga melaporkan serangan terhadap kapal terkait perusahaan minyak negara tersebut.

Iran hingga kini belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan terbaru ini. Namun, sejak konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran pecah pada Februari lalu, Iran telah memberlakukan blokade efektif di Selat Hormuz dan berencana mengenakan biaya kepada kapal yang melintas.

Presiden AS sebelumnya mengklaim bahwa AS memegang kendali penuh atas Selat Hormuz dan berjanji akan mempertahankannya. Namun, militer Iran membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali Iran.

"Klaim keliru Amerika Serikat bahwa kapal-kapal melintasi Selat Hormuz secara normal tidak lebih dari sekadar kebohongan dan rekayasa,"

kata juru bicara komando militer pusat Iran, Ebrahim Zolfaghari.

"Selat Hormuz, sebagaimana pada masa lalu, berada di bawah pengelolaan dan kendali penuh Republik Islam Iran; tidak ada kapal komersial atau kapal tanker yang pernah maupun akan dapat melintasi selat ini dengan aman tanpa izin dan pengawasan dari angkatan bersenjata Iran yang tangguh,"

tambahnya dalam sebuah video yang disiarkan televisi pemerintah Iran.

Kondisi konflik ini menyebabkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz menurun drastis, mencapai level terendah dalam hampir tiga bulan terakhir. Data menunjukkan saat ini hanya sekitar 13 kapal dari berbagai jenis yang melintasi jalur tersebut, jauh di bawah rata-rata sebelum perang yang mencapai 130 kapal per hari.

Menteri Energi UEA, Chris Wright, menyatakan bahwa meski jumlah kapal menurun, ekspor minyak melalui Selat Hormuz masih mencapai rata-rata 9 juta barel per hari dengan pengawalan militer AS saat kapal tanker melintas.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed