Presiden Iran Tegaskan Timur Tengah Tak Butuh AS Jadi Polisi Kawasan
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa kawasan Timur Tengah tidak membutuhkan peran Amerika Serikat sebagai polisi kawasan, dalam situasi perang yang telah berlangsung sejak Februari 2026 antara Iran dan AS di wilayah Selat Hormuz. Konflik ini bermula pada 28 Februari ketika serangan gabungan AS dan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang memicu serangan balasan dan blokade Selat Hormuz oleh Iran. Jalur perairan strategis ini sebelumnya menjadi lintasan seperlima pasokan minyak dunia. "Kami tidak membutuhkan polisi kawasan," ujar Pezeshkian saat berbicara di sela-sela KTT BRICS di India, seperti dilansir AFP, Sabtu (12/9/2026).
Ia menegaskan bahwa keamanan dan integritas wilayah hanya dapat dijamin oleh negara-negara utama yang berada di kawasan tersebut.
"Integritas wilayah dan keamanan kawasan ini hanya dapat dijamin oleh para pemain utamanya dan negara-negara yang berada di dalamnya," kata Pezeshkian dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Sejak blokade Selat Hormuz diberlakukan, kapal-kapal yang melintasi wilayah ini wajib mendapatkan izin dari pihak Iran dan tengah dipertimbangkan mekanisme pemungutan biaya transit. Pelanggaran aturan ini kerap berujung pada serangan dari Iran, sementara AS melakukan serangan udara untuk menantang kendali Iran.
Dalam pidatonya di hadapan para pemimpin agama di India, Pezeshkian juga menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah kepada AS dan Israel. "Karena kami mencari kebenaran dan keadilan, kami tidak akan menyerah di hadapan kesombongan yang menindas," ujar Pezeshkian, seperti dikutip CNBC Indonesia.
Dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri India Narendra Modi, Pezeshkian membahas pentingnya perdamaian, kebebasan navigasi, dan perdagangan di kawasan, serta menyoroti perlunya penyelesaian konflik melalui dialog. Modi menekankan pentingnya menjaga keselamatan pelaut dan mengakhiri ketegangan yang telah menyebabkan gangguan pengiriman minyak dan kargo melalui Selat Hormuz, yang berdampak pada ekonomi dan keamanan energi global. Perang yang telah berlangsung lebih dari enam bulan ini juga menyebabkan lonjakan harga minyak dunia di atas US$ 100 per barel, menurut laporan detik.com.
Di sisi lain, Pezeshkian menyatakan ketidaksetujuannya atas kelanjutan perang dan menyerukan penguatan ketahanan Iran dalam menghadapi kondisi yang berkembang.
"Saya tidak mendukung kelanjutan perang, tetapi kita harus memperkuat ketahanan negara dalam menghadapi perkembangan yang akan datang," ujar Pezeshkian dalam pertemuan dengan pimpinan universitas di Iran, dilansir dari Akurat Kaltim. Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda dan mahasiswa dalam memberikan solusi bagi persoalan masyarakat, bukan menjadi bagian dari aksi protes. Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed menyampaikan belasungkawa atas gugurnya pemimpin revolusi Iran dan memuji keteguhan rakyat Iran dalam menghadapi agresi baru-baru ini, menurut Sindonews.
"Keteguhan, daya tahan, dan semangat patriotisme Anda, rakyat Iran, merupakan pencapaian luar biasa yang ingin kami pelajari," ujar Abiy Ahmed.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow