UMKM Binaan BI Tegal Ekspor Pewarna Batik Alami ke Jepang dan Malaysia
Pasar internasional di Jepang dan Malaysia berhasil ditembus oleh Zahir Widadi, pelaku UMKM binaan Bank Indonesia (BI) Tegal yang memproduksi pewarna alami indigo. Penjualan produk pewarna batik ini menjadi penopang utama pendapatan usahanya yang menembus angka Rp 350 juta hingga Rp 500 juta per bulan, dilansir dari Detik Finance. Pengembangan bisnis pewarnaan alami di bawah bendera Indigo Makers tersebut telah dirintis Zahir sejak 2006.
Ia memilih fokus mengolah tanaman penghasil warna biru serta bermitra langsung dengan para petani untuk urusan budidaya. Hasil olahan usaha ini berwujud pasta indigo yang rutin dikirim ke pasar mancanegara. Pengiriman menuju Jepang telah berjalan secara bertahap sejak 2018, berdampingan dengan pasar Malaysia yang turut menjadi tujuan ekspor.
"Untuk Jepang mereka menggunakan tes laboratorium untuk menemukan 100% organik," ujar Zahir kepada detikcom di KKI 2026, Jakarta International Convention Center (JICC) Hall B, Senayan, Jakarta, Minggu (23/8/2026).
Kapasitas produksi pasta indigo garapan Zahir kini menyentuh angka 350 hingga 400 kilogram setiap bulan. Ia juga sudah mengamankan kontrak pengiriman minimal satu ton untuk durasi per tiga bulan. Langkah Zahir memproduksi indigo tidak semata-mata didorong oleh aspek komersial. Ia memiliki misi memulihkan catatan sejarah tanaman pewarna biru tersebut di wilayah Jawa.
Menurut penjelasannya, komoditas ini membentang dalam jejak sejarah panjang dari Pekalongan sampai Banyumas. Pasta warna biru dari indigo bahkan pernah memegang nilai ekonomi yang sangat tinggi pada masa lalu. "Indigo itu tanaman penghasil warna biru terbaik dunia. Ditanam di Pekalongan sampai ke Banyumas," kata Zahir.
Riset dan wawasan mengenai komoditas bersejarah ini kemudian dirangkum Zahir dalam karya literatur bertajuk Javanese Indigo Batik. Buku berbahasa Inggris tersebut resmi dirilis di Australia pada 2022. Zahir menilai bahwa sektor batik tidak bisa dinilai dari kacamata bisnis semata.
Komoditas batik menyimpan keterikatan erat dengan sejarah, makna filosofis, serta unsur edukasi. "Bagaimana di dalam komoditi itu ada nilai, ada sejarah, ada filosofi, ada makna, ada edukasi," ujarnya.
Dukungan BI Tegal dalam Penguatan Hulu hingga Hilir
Pengembangan unit usaha milik Zahir mendapat sokongan dari BI Tegal, termasuk memfasilitasi proses pengajuan hak paten atas produk pasta indigo. Dukungan sektor hulu untuk penyediaan bahan baku terus diharapkan agar roda produksi pewarna alami dapat bertahan secara berkelanjutan.
Pemanfaatan pewarna alami lokal ini berpotensi menekan ketergantungan industri batik domestik terhadap bahan kimia impor. Selain mendatangkan nilai ekonomi, inovasi komoditas lokal sanggup memperkuat identitas budaya nasional di kancah global. Direktur Departemen Ekonomi, Keuangan, Inklusi, dan Hijau (DEIH) BI, Kurniawan Agung menjelaskan bahwa program pembinaan UMKM dijalankan secara menyeluruh.
Pendampingan mencakup penguatan struktur kelembagaan, peningkatan mutu produk, pengembangan kapasitas, digitalisasi, hingga pembukaan akses pembiayaan dan pasar. "Pembinaannya dilakukan secara end-to-end. Mulai dari bagaimana agar UMKM ini secara kelembagaan lebih kuat, kualitasnya lebih baik, kapasitasnya lebih maju," ujar Kurniawan.
Kurniawan menambahkan bahwa penerapan digitalisasi memperluas jangkauan pemasaran produk UMKM. Bank Indonesia lantas mempertemukan para pelaku usaha dengan pasar domestik maupun mancanegara melalui mekanisme business matching dan kerja sama agregator.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow