Viktor Axelsen Bagikan Refleksi Karier dan Kritisi Aturan BWF di Jakarta
Mantan pebulu tangkis tunggal putra nomor satu dunia asal Denmark, Viktor Axelsen, mengunjungi Jakarta pada Minggu (24/5/2026) untuk membagikan refleksi perjalanan kariernya pascapensiun sekaligus mengkritisi rencana pemberlakuan sistem skor 15 poin oleh Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).
Peraih medali emas Olimpiade 2020 dan 2024 tersebut memutuskan gantung raket pada April 2026 di usia 32 tahun akibat cedera punggung kronis yang memerlukan tindakan operasi dan membatasi ruang geraknya tanpa rasa sakit yang hebat.
Dalam acara jumpa pers di Hotel The Westin Jakarta, Axelsen mengungkapkan rasa bangganya terhadap konsistensi yang berhasil ia pertahankan di level tertinggi olahraga tersebut setelah melewati berbagai kendala fisik.
"Saya pikir sebenarnya, memenangkan satu Olimpiade tentu saja sangat sulit, tetapi memenangkan dua kali jauh lebih sulit. Dan saya rasa yang paling saya banggakan sebenarnya adalah konsistensi sepanjang karier saya," kata Axelsen.
Axelsen menambahkan bahwa dirinya mampu mengelola keseimbangan performa harian dengan hasil di lapangan setelah meraih medali emas pertamanya.
"Setelah memenangkan medali emas Olimpiade pertama, saya sebenarnya mulai bermain lebih baik lagi. Jadi saya sangat konsisten dalam latihan dan kehidupan harian saya, dan di samping hasil-hasil tersebut, saya sangat bangga tentang bagaimana saya mengelola hal itu," ujarnya.
Kondisi cedera punggung yang dialaminya sempat menimbulkan kekhawatiran besar menjelang Olimpiade Paris sebelum akhirnya ia menjalani operasi pada tahun lalu.
"Saya sempat merasa takut sebelum Olimpiade di Paris. Saya mengalami banyak nyeri punggung. Dan kemudian, setelah Olimpiade, jelas saya menjalani operasi pada bulan April tahun lalu," tutur Axelsen.
Rasa sakit yang terus menetap setelah operasi membuat atlet dengan tinggi badan 1,94 meter ini memutuskan bahwa melanjutkan karier profesional akan menjadi hal yang terlalu sulit.
"Dan setelah kembali, saya tidak benar-benar bisa kembali tanpa rasa sakit yang hebat. Jadi ketika rasa sakit itu muncul kembali setelah operasi saya, maka saya tahu akan sangat sulit untuk melanjutkan karena saya merasakan sakit yang terlalu besar," ucapnya.
Selain membahas kondisi fisiknya, Axelsen yang hadir sebagai duta merek Monitor ERP juga mengomentari keputusan BWF yang mengesahkan aturan skor 15 poin mulai Januari 2027 melalui pemungutan suara di Denmark.
"Saya rasa kita akan kehilangan drama dan taktik sedikit. Saya suka sejarah yang ada dalam sebuah pertandingan, itu bisa naik dan turun," kata Axelsen.
Menurutnya, format 21 poin yang digunakan saat ini memberikan kesempatan yang lebih adil bagi pemain untuk mengejar ketertinggalan poin yang jauh.
"Meskipun Anda tertinggal 11-5 atau semacamnya, Anda bisa bangkit kembali. Itu sangat sulit jika Anda hanya bermain sampai 15 poin," ujar Axelsen.
Di luar aktivitas lapangan, Axelsen kini menikmati kehidupan baru bersama keluarga, mengantar putrinya ke sekolah, serta mengembangkan bisnis investasi dan manajemen risiko bersama rekannya.
"Saya rasa dengan Monitor ERP, kami memiliki nilai-nilai yang sama dalam hal bagaimana kami menjalani kehidupan profesional kami dan juga kehidupan di luar bisnis dan performa. Kami suka memperlakukan orang dengan baik, dan kami memperlakukan orang dengan rasa hormat," kata Axelsen.
Kemitraan jangka panjang ini dinilai Axelsen berjalan dengan sangat baik karena dilandasi oleh kesamaan visi di luar urusan komersial semata.
"Dan saya pikir, jika Anda melakukan itu, itu adalah cara terbaik untuk hidup dan berbisnis. Jadi saya sangat, sangat senang memiliki mitra seperti Monitor ERP bersama dengan semua mitra saya yang lain," kata Axelsen.
Nilai-nilai kedisiplinan dan ketangguhan yang diperolehnya dari dunia olahraga diakui Axelsen menjadi modal penting yang sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Berkompetisi di panggung terbesar dunia telah mengajarkan saya tentang disiplin, konsistensi, dan ketangguhan. Nilai-nilai yang relevan jauh melampaui olahraga," ujar Axelsen.
Ia juga menegaskan pentingnya hubungan yang harmonis dan berkelanjutan dengan para sponsor pendukung seperti Yonex, Monitor ERP, dan HSBC.
"Saya sangat menghargai kepercayaan yang diberikan oleh mitra saya seperti Monitor ERP. Saya bangga bahwa kemitraan ini tidak berhenti kepada performa, tapi berlanjut pada nilai dan visi jangka panjang," jelasnya.
Axelsen yang sempat memuncaki peringkat satu dunia selama 183 minggu mengungkapkan bahwa sebagian besar waktunya saat ini didedikasikan untuk anak-anaknya seraya tetap berlatih fisik secara rutin.
"Saya mencoba menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan kedua putri saya. Namun, saat bersama mereka, saya tetap mengantar mereka ke tempat penitipan anak atau sekolah. Setelah itu saya selalu menjalani latihan fisik," ungkap Axelsen.
Meski tidak berniat menjadi pelatih, Axelsen memastikan dirinya akan tetap berkontribusi dalam industri olahraga melalui proyek bisnis dan kemitraan strategis.
"Saya punya bisnis bersama seorang teman, dan saya juga masih banyak bekerja dengan sponsor seperti Yonex, Monitor, HSBC, jadi saya masih cukup sibuk dan menikmati hidup," sambung Axelsen.
Sementara itu, Chief Executive Officer Monitor ERP Asia Tenggara, Daniel Haggmark, memberikan tanggapan positif terkait antusiasme luar biasa dari komunitas bulu tangkis lokal di Jakarta terhadap kehadiran sang legenda.
"Energi dan antusiasme yang kita saksikan hari ini di Jakarta menunjukkan berapa kuatnya koneksi Viktor dengan komunitasnya," ujar Daniel.
Haggmark menambahkan bahwa kerja sama strategis ini menjadi perwujudan nyata dari komitmen perusahaan dalam menerapkan standar kualitas tinggi di sektor industri manufaktur wilayah Asia Tenggara.
"Kemitraan kami dengan Viktor Axelsen adalah cerminan komitmen jangka panjang Monitor ERP terhadap keunggulan. Nilai inilah yang selalu kami bawa dan terapkan setiap harinya," imbuh Daniel.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memicu pertumbuhan berkelanjutan di pasar Indonesia, di mana setelah Jakarta, rangkaian tur regional Axelsen dijadwalkan berlanjut ke Penang, Malaysia, pada 26 Mei 2026.
"Nilai yang sama inilah yang setiap hari kami bawa untuk mendukung pertumbuhan komunitas manufaktur di Indonesia," kata Haggmark.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow