Wabah Ebola di Kongo Menelan 2.325 Korban Jiwa
Republik Demokratik Kongo menghadapi krisis kesehatan terburuk setelah wabah virus Ebola merenggut 2.325 korban jiwa sejak diumumkan pada 15 Mei, sebagaimana dilansir dari Detik Health pada Minggu (17/8/2026).
Data Lembaga Kesehatan Masyarakat Kongo mencatat total kasus terkonfirmasi telah mencapai 4.945 orang. Lonjakan ini mencakup 101 kasus baru yang terdeteksi hanya dalam waktu 24 jam terakhir.
Jumlah kematian pada gelombang ke-17 ini resmi melampaui rekor terburuk periode 2018-2020 yang merenggut 2.299 jiwa. Penularan saat ini berlangsung sangat cepat dengan merenggut 2.000 nyawa dalam waktu kurang dari tiga bulan.
Tingkat kematian pasien terkonfirmasi melonjak dari 20 persen pada awal Juni menjadi 46 persen. Para ahli menegaskan lonjakan angka fatalitas ini dipicu oleh lemahnya deteksi dini serta buruknya akses layanan kesehatan setempat.
Pakar kesehatan masyarakat dari Médecins Sans Frontières (MSF), Thomas Parisch, memberikan penjelasan mengenai penanganan kasus di lapangan.
"Normalnya, seiring berjalannya wabah, tingkat kematian harusnya menurun karena pelacakan kontak membaik. Namun, di sini kami masih melihat banyak kasus baru terdeteksi sangat terlambat-bahkan baru ketahuan setelah pasien meninggal di tengah komunitas," ungkap Thomas Parisch, pakar kesehatan masyarakat dari Médecins Sans Frontières (MSF).
Penyebaran Ebola kali ini disebabkan oleh spesies Bundibugyo, varian langka yang belum memiliki vaksin atau obat resmi yang disetujui secara global. Penanganan medis semakin terhambat oleh infrastruktur yang rapuh, konflik keamanan, dan resistensi masyarakat terhadap protokol kesehatan.
Otoritas kesehatan global saat ini masih menguji coba sejumlah vaksin serta terapi eksperimental. Penularan virus terjadi melalui kontak langsung cairan tubuh, dengan gejala demam tinggi, muntah, diare parah, hingga pendarahan internal dan eksternal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow