Jumlah Warga Israel yang Eksodus dan Menolak Kembali Meningkat

Smallest Font
Largest Font

Ratusan ribu warga Israel dilaporkan memilih meninggalkan negaranya secara permanen dan enggan kembali, memicu krisis migrasi serta ancaman serius bagi masa depan sosial, politik, dan ekonomi Israel. Laporan Pusat Penelitian dan Informasi Knesset yang dilansir surat kabar Maariv mengungkapkan jumlah warga Israel yang kembali ke negaranya anjlok hingga 53 persen. Angka kepulangan merosot dari sekitar 8.000 orang pada 2020 menjadi tinggal 3.800 orang pada 2024.

Akibatnya, neraca migrasi Israel menjadi negatif sepanjang 2022–2024 dengan pengurangan bersih mencapai 140 ribu orang. Sementara itu, Financial Times dan data Universitas Tel Aviv mencatat antara 150 ribu hingga 270 ribu warga hengkang dalam tiga tahun terakhir. Sebagian besar eksodus ini didominasi oleh kelompok usia produktif 28–60 tahun serta keluarga muda berpendidikan tinggi dan memiliki keterampilan penting.

Penurunan tajam kepulangan terlihat jelas pada diaspora di Amerika Serikat, yang merosot dari 3.700 orang pada 2020 menjadi hanya 1.500 orang pada 2024. Peneliti juga mencatat hambatan birokrasi, kewajiban membayar biaya asuransi kesehatan hingga 16.860 shekel, serta sulitnya lapangan kerja turut memicu warga menunda kepulangan.

Gagasan reformasi sistem peradilan yang diusung Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada awal 2023 menjadi pemicu awal krisis, yang kemudian diperparah oleh letupan perang Gaza pada 7 Oktober 2023 hingga meluas menjadi konflik regional.

"Kali ini, tidak jelas peran apa yang dimainkan ekonomi," kata Sergio Della Pergola, Ahli demografi Israel. Della Pergola menekankan bahwa ketidakpastian keamanan, kedalaman polarisasi politik, serta arah kebijakan pemerintah menjadi pendorong utama warga untuk pergi.

"Makin banyak, keluarga muda yang berpendidikan tinggi dan berprestasi tinggi meninggalkan negara ini," kata Lilach Lev Ari, Profesor imigrasi dan demografi. Lev Ari menambahkan bahwa fenomena tersebut berisiko merenggut sumber daya manusia yang sangat vital bagi sektor inovasi dan teknologi Israel.

"Kami kehilangan beberapa orang yang kompeten, tetapi kami masih memiliki orang-orang baik di sini," kata Lilach Lev Ari, Profesor imigrasi dan demografi. Di tingkat parlemen, situasi migrasi ini mulai dikategorikan sebagai ancaman strategis nasional daripada sekadar keputusan pribadi warga. "Kami telah berulang kali meminta agar ditunjuk seseorang yang menangani fenomena ini secara menyeluruh," kata Gilad Kariv, Ketua Komite Urusan Imigrasi, Penyerapan, dan Diaspora parlemen Israel.

Hingga saat ini, pemerintah Israel belum mengeluarkan kebijakan khusus untuk membendung gelombang keberangkatan warga maupun merangsang kepulangan diaspora dari luar negeri.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed