William Saliba Targetkan Gelar Juara Bersama Arsenal dan Prancis
Bek tengah Arsenal dan tim nasional Prancis, William Saliba, menegaskan ambisinya untuk membangun dinasti juara di London Utara setelah berhasil meraih medali juara Premier League musim 2025/2026.
Pemain berusia 25 tahun tersebut kini membidik target tinggi agar Arsenal memenangkan setidaknya satu trofi setiap musim demi mengamankan status sebagai legenda klub.
Saliba merefleksikan perjalanannya dari masa-masa sulit saat pertama kali tiba di Inggris hingga menjadi salah satu bek terbaik dunia yang disegani lawan atas instruksi manajer Mikel Arteta.
"I’m someone who prefers to speak only when there’s something to say," kata Saliba kepada GQ.
Saliba merasa dirinya harus bekerja keras terlebih dahulu sebelum banyak berbicara karena daftar prestasinya yang baru mencakup dua trofi Community Shield sebelum gelar liga musim lalu.
"Trophies are what make people remember you," cetus Saliba.
Meskipun mengakui kualitasnya, bek kelahiran Bondy ini tetap rendah hati dan menyadari posisinya tidak sepopuler penyerang bintang seperti Kylian Mbappe.
"Football is a team sport. I’m still missing the big titles, and once I’ve got those, it’ll be even better," tutur Saliba.
Status kebintangannya yang meroket kontras dengan awal kariernya di London pada musim gugur 2020, saat ia sempat turun ke tim U-23 akibat masalah adaptasi dan duka mendalam setelah kepergian ibunya.
"I’m making progress. The more my level improves, the more I feel it on the pitch," aku Saliba.
Setelah melewati masa pinjaman krusial di OGC Nice, ia berhasil menembus skuad utama Arsenal dan mengukuhkan posisinya di lini belakang.
"This is where I dreamed of being: a first-team regular at a big club. It’s something I love." sebut Saliba.
Ia menambahkan bahwa persaingan yang ketat di tingkat tertinggi sepak bola membuatnya selalu waspada agar posisinya tidak direbut pemain lain.
"I knew I had the qualities and the talent to be a top-class player, so I fought to get back to Arsenal and show that my place was there. I’m careful not to get complacent. Football moves too fast: if you let up, someone will come and replace you straight away." tegas Saliba.
Mengenai posisi bermainnya, Saliba mengungkapkan bahwa keputusannya menjadi bek tengah merupakan garis takdir yang ia syukuri meskipun masa kecilnya dihabiskan dengan mengagumi para penyerang.
"God decided I’d be a centre-back, and I’m very happy with that. Even if I’d had to be a goalkeeper to turn professional, I would have done it. When you’re a kid, you tend to watch the strikers more — the ones who score, who make the decisive passes; they’re the ones who get you most excited.
If I’d been able to, I’d have been a striker and scored 30 goals a season. I’m not a star like Mbappé or Dembélé, but in my position I’m one of the best." urai Saliba.
Dilansir dari French Football Weekly, Saliba sempat mengenang masa-masa terpuruknya pada tahun 2020 saat dicoret dari rencana awal Mikel Arteta.
"I was really bad, I was never in the group" ungkap Saliba kepada L'Equipe.
Kini, fokusnya juga tertuju pada level internasional bersama Les Bleus untuk memimpin rekan-rekannya melalui aksi di lapangan, meniru kepemimpinan Raphael Varane.
"It’s clear that I’m not someone who’s going to speak up in the locker room like Mike [Maignan] or Kylian [Mbappé]," jelas Saliba.
Saliba menilai tugas seorang bek adalah banyak berkomunikasi di atas lapangan karena memiliki pandangan luas terhadap seluruh permainan.
"But as a defender, I operate on the principle that you have to talk a lot to your teammates on the pitch, because you see everything. So I try to do that. And then play well and win my duels. That’s how you make your mark on a team." tambah Saliba.
Motivasi tinggi juga dibawa Saliba menjelang Piala Dunia setelah hanya bermain selama 27 menit di Qatar dan merasakan kepedihan kekalahan di final 2022.
"Argentina. When a team beats you the way they beat us, you want to play them again. You want revenge," tukas Saliba kepada Goal.
Di level klub, ambisi jangka pendeknya diungkapkan menjelang pertandingan Community Shield melawan Manchester City pada bulan Agustus mendatang.
"I’m shifting into a mindset where, every year from now on, we have to win at least one trophy," papar Saliba kepada Daily Cannon.
Saliba menyatakan enggan berpuas diri dengan gelar juara yang sudah diraih dan menolak untuk menghentikan momentum kebangkitan klub.
"The worst thing would be to stop and savor the moment. It’s fantastic, we won, we celebrated the title. But as soon as the season starts again, we’re back to winning again. There’s no question of stopping here." lanjut Saliba.
Kompetisi musim baru akan menguji konsistensi Arsenal dalam mempertahankan mahkota Premier League serta memburu gelar domestik dan Liga Champions pertama mereka.
"We’ve made Arsenal history, but I want to become a legend. To do that, we need to create a dynasty, to win again." pungkas Saliba.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow