Yield Obligasi AS Naik ke Level Tertinggi Sejak 2007 Jelang Keputusan BI
Yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2007 pada 18 Agustus 2026, bersamaan dengan kenaikan harga minyak mentah Brent ke sekitar US$91 per barel, menjelang keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang dinantikan pasar.
Yield Treasury AS 30 tahun mencapai 5,327%, sedangkan yield tenor 10 tahun berada di sekitar 4,71%, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi berkepanjangan dan risiko fiskal AS, terutama karena ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang merupakan jalur penting perdagangan minyak dunia.
Ketegangan ini diperparah oleh ancaman Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan mengebom Oman jika negara tersebut dianggap menghambat upaya damai dengan Iran, yang dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan serangan terhadap kapal tanker di kawasan tersebut. Situasi ini menyebabkan harga minyak Brent bertahan di level tinggi dan turut menekan pasar obligasi AS.
Pasar saham AS merespons negatif dengan indeks Nasdaq 100 turun 1,7%, S&P 500 melemah 0,7%, dan indeks semikonduktor Philadelphia anjlok 5%. Meskipun saham perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI) sempat menguat, indeks utama tetap mengalami tekanan.
Berbeda dengan pasar global, pasar domestik Indonesia menunjukkan ketahanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,75% ke level 6.449,83 pada 18 Agustus 2026, dengan posisi teknikal masih berada di atas rata-rata pergerakan 5, 10, dan 20 hari. Rupiah relatif stabil di Rp17.819 per dolar AS, meski volatilitas intrahari masih terlihat.
Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun di pasar domestik naik tipis 3,8 basis poin menjadi 7,1% pada 18 Agustus, tetapi masih lebih rendah sekitar 23,7 basis poin dibandingkan akhir Juli. Selisih yield SBN 10 tahun terhadap Treasury AS 10 tahun sekitar 239 basis poin, menunjukkan perbedaan risiko dan imbal hasil antara pasar domestik dan global.
Menjelang Rapat Dewan Gubernur BI tanggal 19 Agustus, konsensus memperkirakan BI Rate akan dipertahankan di 5,75%. Keputusan tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas pasar, dengan respons pasar yang bergantung pada panduan BI terkait inflasi dan ruang kebijakan ke depan.
Dalam situasi pasar global yang cenderung risk off, reksadana pasar uang menjadi pilihan bagi investor untuk menjaga likuiditas dana jangka pendek karena instrumen ini berisiko lebih rendah dibandingkan reksadana pendapatan tetap. Produk reksadana pasar uang pun tersedia dalam rupiah maupun dolar AS, sesuai kebutuhan investor.
Kenaikan yield obligasi jangka panjang memberi tekanan pada harga obligasi dan berdampak pada reksadana pendapatan tetap, terutama yang berdurasi panjang. Namun, reksadana ini masih layak dicermati untuk tujuan investasi menengah hingga panjang, dengan catatan investor mempertimbangkan sensitivitas durasi terhadap perubahan suku bunga.
Harga emas spot turun sekitar 2% pada 18 Agustus ke kisaran US$4.329 per troy ounce, menunjukkan tekanan jual jangka pendek. Area US$4.333 menjadi support utama, dan harga emas perlu menembus resistensi US$4.448 untuk mengonfirmasi tren penguatan. Wells Fargo Investment Institute memperkirakan harga emas akan berada di kisaran US$4.900–US$5.100 pada akhir 2026, didukung oleh permintaan dari investor Asia dan pembelian bank sentral.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow