Kecerdasan Buatan Deteksi Gejala Awal Demensia Melalui Pola Suara Ponsel

Smallest Font
Largest Font

Para peneliti mengembangkan alat analisis suara berbasis kecerdasan buatan (AI) melalui ponsel pintar yang mampu mendeteksi penurunan kognitif serta risiko penyakit Alzheimer sejak dini dengan tingkat akurasi mencapai 75 hingga 78 persen.

Teknologi baru ini memanfaatkan perubahan kecil pada pilihan kata, struktur kalimat, durasi jeda, dan pola vokal yang muncul bertahun-tahun sebelum diagnosis klinis formal ditetapkan oleh dokter. Peneliti dari Baycrest, University of Toronto, dan York University pada tahun 2025 merekam suara para partisipan yang diminta mendeskripsikan gambar, lalu menganalisisnya menggunakan AI untuk mengukur kelancaran serta waktu jeda bicara.

Hasil riset yang dipublikasikan dalam Journal of Speech, Language, and Hearing Research tersebut menunjukkan bahwa kelancaran arus bicara seseorang dapat memprediksi performa fungsi eksekutif otak pada tes kognitif standar secara konsisten.

"Speech timing and fluency may offer a practical window into cognitive health, even in individuals who haven't shown obvious signs of decline." kata peneliti utama.

Penelitian lain yang terhubung dengan Framingham Heart Study juga menemukan bahwa analisis suara oleh AI mampu memprediksi perkembangan dari gangguan kognitif ringan menjadi Alzheimer dalam jangka waktu enam tahun dengan akurasi sekitar 78 persen. Jeda bicara yang tidak biasa seperti penggunaan kata pengisi "um" dan "uh" diidentifikasi sebagai indikator adanya hambatan pemrosesan atau kesulitan pengambilan kata di dalam otak.

Studi linguistik dari Cardiff University dan Loughborough University terhadap 33 novel karya Sir Terry Pratchett, penulis yang didiagnosis menderita Posterior Cortical Atrophy akibat Alzheimer pada 2007, turut memperkuat teori ini. Analisis matematis menunjukkan adanya penurunan keragaman kosakata yang signifikan dalam karya-karya terakhirnya sekitar sepuluh tahun sebelum diagnosis formal, meskipun perubahan tersebut tidak disadari oleh para pembaca.

Sebuah studi terpisah yang diterbitkan dalam NPJ Digital Medicine mendeskripsikan suara manusia sebagai "digital biomarker" yang dapat diukur untuk penilaian kognitif karena merefleksikan memori, perhatian, dan fungsi eksekutif secara simultan. Pemeriksaan berbasis aplikasi ponsel ini dinilai menjadi alternatif penyaringan awal yang murah, jarak jauh, serta non-invasif bagi lansia, terutama yang berada di daerah pedesaan dengan keterbatasan akses ke spesialis saraf.

Kendati demikian, para ahli medis mengingatkan bahwa aplikasi analisis suara ini bukan alat diagnosis definitif karena tingkat akurasi 75 hingga 78 persen masih menyisakan ruang untuk hasil positif palsu atau negatif palsu. Faktor lain seperti aksen, tingkat pendidikan, gangguan pendengaran, stres, kecemasan, dan gangguan bicara juga dapat memengaruhi hasil analisis AI, sehingga evaluasi medis profesional tetap diperlukan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed