Anak Krakatau Siaga, KSOP Awasi Kapal dan BPBD Perkuat Mitigasi

Smallest Font
Largest Font

Otoritas pelayaran dan kebencanaan memperketat pengawasan di Selat Sunda menyusul peningkatan status Gunung Anak Krakatau menjadi Level III atau Siaga pada Sabtu (4/7/2026). Kapal dilarang melintas dalam radius lima kilometer, sementara mitigasi pesisir diperkuat melalui edukasi evakuasi mandiri.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan status gunung api tersebut karena adanya lonjakan aktivitas vulkanik yang tercatat secara visual maupun instrumental akhir-akhir ini.

"Peningkatan aktivitas ini menunjukkan adanya suplai magma ke permukaan, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius yang telah direkomendasikan," kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria.

Menyikapi eskalasi status kebencanaan, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten mengeluarkan arahan pelayaran. Instruksi ini mewajibkan nakhoda memantau cuaca, menjauhi area kawah aktif sejauh lima kilometer, serta melaporkan indikasi bahaya kepada instansi terkait.

"Sehubungan dengan peningkatan status aktivitas Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda menjadi Level III (Siaga) berdasarkan informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dengan ini disampaikan kepada seluruh nakhoda, pemilik/pengusaha kapal, perusahaan pelayaran, agen kapal, serta seluruh pengguna jasa angkutan laut yang melaksanakan pelayaran di perairan Selat Sunda agar meningkatkan kewaspadaan demi keselamatan pelayaran," kata Kepala Kantor KSOP Kelas I Banten Raden Yogie Nugraha.

Di wilayah daratan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung memfokuskan mitigasi pada kesiapsiagaan warga pesisir yang berada di zona bahaya.

"Mitigasi paling mendasar dan paling efektif sebenarnya ada pada kepatuhan masyarakat serta wisatawan itu sendiri. Jika PVMBG merekomendasikan jarak aman radius 5 kilometer, maka aturan itu harus dipatuhi tanpa tawar-menawar," ujar Humas BPBD Provinsi Lampung Wahyu Hidayat.

Langkah pencegahan di Lampung didukung dengan pembentukan 25 Desa Tangguh Bencana (Destana) yang membentang dari kawasan Ujung Kulon hingga Rangai. Masyarakat diberikan pelatihan dan simulasi yang terhubung dengan sistem peringatan dini berupa sirine tsunami di sepanjang pesisir.

"Tujuannya agar masyarakat mampu melakukan evakuasi secara mandiri dan tidak panik ketika terjadi kondisi darurat," jelas Wahyu Hidayat.

Pihak BPBD juga mengantisipasi sebaran abu vulkanik ke daratan dengan menyiapkan distribusi masker, mengingat material vulkanik tersebut dapat mengganggu saluran pernapasan manusia apabila terhirup.

"Secara mikroskopis, partikel abu vulkanik itu memiliki sudut yang tajam dan keras. Jika terhirup, ini sangat berbahaya dan berpotensi besar menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)," katanya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed