Tim SAR Temukan Pelampung dan Helm Jurnalis Hilang di Selat Sunda
Tim SAR gabungan memperluas area pencarian dan berhasil menemukan sejumlah barang milik rombongan lima jurnalis serta tiga awak kapal yang hilang kontak di perairan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, pada Sabtu (12/9/2026).
Pencarian pada hari kelima tersebut membuahkan hasil berupa penemuan empat barang dari sektor penyisiran laut. Komunikasi terakhir rombongan tersebut juga sempat terdeteksi oleh jaringan telekomunikasi berada di sekitar area Pulau Sebesi.
Temuan barang-barang keselamatan dan perlengkapan kapal didapatkan oleh awak kapal KN SAR Tetuka saat menyisir area perairan sebelah selatan Gunung Anak Krakatau hingga Ujung Kulon.
"KN SAR Tetuka itu (menemukan) jirigen, helm, sama life jacket," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad.
Ia memerinci bahwa jeriken minyak berwarna biru ditemukan pada pukul 10.05 WIB dan helm merah ditemukan pukul 12.00 WIB. Sementara dua jaket pelampung masing-masing berwarna oranye dan merah ditemukan pada sore harinya, yakni pukul 17.10 WIB dan 18.09 WIB.
"Diserahkan kepada pihak berwenang untuk diidentifikasi lebih lanjut," kata Al Amrad.
Selain temuan dari tim laut, Kementerian Komunikasi dan Digital ikut berupaya melacak posisi korban memanfaatkan pemantauan infrastruktur base transceiver station dari operator seluler dan balai monitoring spektrum frekuensi radio di Banten serta Lampung.
"Komdigi sejak awal, setelah menerima informasi ini, mengajak semua opsel (operator selular) dan infrastruktur yang di bawah Kementerian Komdigi untuk memantau sinyal-sinyal ataupun tanda-tanda dari penggunaan smartphone, misalnya di area yang diduga insiden kehilangan kontak ini terjadi," kata Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria.
Pihak kementerian mencatat pergerakan terakhir dari perangkat telepon seluler milik rombongan jurnalis menunjukkan titik koordinat yang konsisten di area pulau terdekat dari lokasi erupsi.
"Seperti kita ketahui terakhir data yang terima adalah kontak terakhir pada tanggal 7 September, berada di Pulau Sebesi, dengan demikian kita terus memantau terus mencari," ujar Nezar Patria.
Kementerian telekomunikasi juga meminta publik untuk tidak menyebarkan spekulasi liar dan berpegang pada rujukan informasi dari posko resmi.
"Kalau Komdigi kita sudah berkoordinasi dengan tiga operator selular itu, semua mendeteksi BTS yang ada di seputaran Selat Sunda baik yang ada di Banten maupun yang ada di Lampung melalui balai monitoring yang ada di Banten dan Lampung. Kita terus melakukan pengecekan kalau ada sinyal-sinyal yang tertangkap," kata Nezar Patria.
Ia menambahkan bahwa koordinasi teknis penelusuran sinyal jaringan tersebut telah diserahkan sepenuhnya kepada tim pencari lapangan.
"Dari opsel kita sudah mendapatkan informasi, dan informasi itu sudah kita teruskan kepada SAR dan sudah diproses berupaya kontak terakhir di Pulau Sebesi," ujar Nezar Patria.
Upaya pelacakan komunikasi dilakukan secara paralel bersamaan dengan pengerahan belasan armada laut dan pemantauan udara.
“Komdigi sendiri sudah berkoordinasi dengan operator seluler, tiga operator seluler itu sudah mendeteksi BTS yang ada di seputaran Selat Sunda, baik yang ada di Banten maupun yang ada di Lampung,” kata Nezar Patria.
Tim pemantau spektrum frekuensi terus bersiap jika sewaktu-waktu ada pancaran sinyal darurat dari perangkat korban.
“Melalui balai monitoring frekuensi yang ada di Banten dan Lampung, kita terus melakukan pengecekan kalau ada sinyal-sinyal yang tertangkap,” ujar Nezar Patria.
Data posisi terakhir di Pulau Sebesi menjadi acuan utama bagi SAR gabungan dalam memeta rute penyisiran kapal.
“Dari operator seluler kita sudah mendapatkan informasi dan informasi itu sudah diteruskan kepada SAR dan sudah diproses berupa kontak terakhir di Pulau Sebesi,” kata Nezar Patria.
Kementerian Komunikasi dan Digital mengonfirmasi kesiapan seluruh fasilitas infrastruktur untuk mendukung penuh jalannya operasi kemanusiaan ini.
“Kita terus memantau, terus mencari dan sama-sama kita berdoa. Kami minta seluruh rakyat Indonesia juga mendoakan agar proses pencarian ini kita semua diberikan kekuatan dan kita bisa menemukan delapan warga kita yang sekarang berada di perairan Selat Sunda,” ujar Nezar Patria.
Penyisiran di perairan Selat Sunda sebelumnya juga sempat menemukan jaket pelampung lain oleh kapal KAL Anyer pada titik koordinat 16,2 mil laut di timur Gunung Anak Krakatau.
"Hasilnya masih nihil, hanya menemukan satu buah life jacket oleh KAL Anyer. Saat ini sudah diserahterimakan ke teman-teman Kantor SAR yang ada di posko Aju di Dermaga Ciwandan," kata Al Amrad.
Barang bukti awal tersebut langsung dikirimkan ke dermaga guna keperluan penyelidikan oleh pihak kepolisian dan militer.
"Life jacket berwarna oranye. Tetapi untuk spesifikasi lainnya, nanti pada saat life jacket tersebut setelah diidentifikasi, karena begitu barang ditemukan, kapal telah sandar, langsung dilaksanakan proses serah terima kepada tim Basarnas yang berada di posko aju di Pelabuhan Ciwandan," kata Komandan Lanal Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani.
Pengujian fisik dilakukan oleh Ditpolairud Banten bersama Penyidik Pomal untuk memverifikasi kepemilikan barang. Kendati demikian, dua pelampung yang ditemukan pada hari ketiga dan keempat dipastikan bukan milik armada speedboat Arupadhatu 1 berdasarkan konfirmasi dari pemilik kapal, Sandi Wiyasa.
Operasi pencarian pada hari kelima melibatkan 14 alat utama yang terbagi dalam tujuh sektor pencarian laut seluas 2.537 mil laut persegi, serta sektor udara mencakup area 2.063 mil laut persegi. Namun pencarian udara menggunakan Helikopter Rescue 3604 terhambat dan hanya berlangsung 41 menit.
"Semua unsur yang melakukan pencarian baik itu dari angkatan laut, Dirpolair, termasuk Basarnas, Kantor SAR Banten, Kantor SAR Jakarta, Kantor SAR Lampung, dan Kantor SAR Bengkulu, itu hasil hingga saat ini masih nihil," kata Al Amrad.
Faktor cuaca buruk menjadi tantangan terbesar para personel SAR dalam mendeteksi keberadaan para korban di permukaan laut.
"Kendala di lapangan saat ini dari semua laporan rekan-rekan kita tim SAR gabungan dengan kabut yang sangat tebal sehingga mengganggu visibility," ujar Al Amrad.
Kendala gangguan jarak pandang tersebut turut dibenarkan oleh tim gabungan yang bertugas di lapangan.
"Kendala utama di lapangan berdasarkan laporan seluruh tim SAR gabungan adalah kabut tebal yang sangat mengganggu jarak pandang," kata Al Amrad.
Barang-barang terbaru yang ditemukan KN SAR Tetuka saat ini dibawa menuju Dermaga Ciwandan untuk diidentifikasi.
"Saat ini (empat barang tersebut) dalam perjalanan menuju Dermaga Ciwandan," kata Al Amrad.
Proses konfirmasi kecocokan barang dengan perlengkapan kapal Arupadhatu 1 masih menunggu pemeriksaan lanjutan.
"Untuk hasil identifikasi nanti disampaikan lebih lanjut oleh pihak yang berwenang. Kami sudah menyerahkan temuan tersebut, tinggal kita tunggu bersama hasilnya," kata Al Amrad.
Rombongan yang dilaporkan hilang kontak sejak Senin (7/9/2026) tersebut terdiri dari lima jurnalis yaitu M. Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudhis, Daus, dan Donal, serta tiga awak speedboat Arupadhatu 1 yaitu Warta (kapten), Surakman (ABK), dan Heriyanto (pemandu wisata). Operasi SAR gabungan dilanjutkan kembali pada Minggu (13/9/2026).
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow