Antrean BBM di Makassar Meningkat Akibat Pergeseran Konsumsi Subsidi
Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Makassar akibat pergeseran konsumsi masyarakat ke BBM subsidi, sementara Pertamina menyatakan stok BBM dalam kondisi aman dan distribusi berjalan lancar.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, menyampaikan bahwa antrean terjadi karena perubahan pola konsumsi BBM setelah kenaikan harga minyak dunia. Masyarakat beralih dari produk non-subsidi seperti Pertamax dan Dex ke produk subsidi seperti Pertalite dan Biosolar.
Eko menjelaskan, "Ini sebenarnya secara BBM stok tersedia, hanya karena terjadinya shifting karena kenaikan harga cukup tinggi ya, shifting dari produk-produk yang non-PSO, Pertamax series, kemudian Dex itu ke Pertalite maupun ke Biosolar (produk BBM subsidi)."
Lebih lanjut Eko menambahkan bahwa keterbatasan fasilitas di SPBU juga mempengaruhi antrean karena ruang untuk menambah dispenser khusus Pertalite dan Biosolar sudah disesuaikan dengan kebutuhan awal masyarakat setempat.
"Karena kita sudah mendesain juga dengan kondisi kebutuhan ataupun populasi dari masyarakatnya sendiri. Jadi ini kita sedang mencari mitra-mitra bisa membangun-bangun titik-titik SPBU, bisa konsorsium lah nanti," ujar Eko.
Untuk mengatasi antrean, Pertamina berencana memperluas jaringan SPBU dengan membangun SPBU berskala lebih kecil di wilayah yang jarak antar penyalur cukup jauh seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
"Dan ini mungkin salah satu solusi untuk daerah-daerah khususnya daerah-daerah yang Sumatera, Kalimantan, maupun juga Sulawesi yang jarak antara lembaga penyalurnya cukup jauh, kami bisa sisipkan di antaranya dengan membangun SPBU bertipe kecil supaya bisa memecah antrean," ujar Eko.
Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Wahyudi Anas, juga menyampaikan adanya kenaikan konsumsi BBM subsidi khususnya Pertalite setelah kenaikan harga BBM non-subsidi.
"Ini menunjukkan adanya pergerakan harga BBM khususnya RON 90 ini Pertalite. Ini konsumsinya cukup lumayan naik pasca adanya kenaikan harga BBM non subsidi, baik itu Pertamax maupun Pertamax Turbo," kata Wahyudi dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI.
Wahyudi menjelaskan bahwa rata-rata penyaluran Pertalite harian pada periode 18 April hingga 10 Juni 2026 mencapai 75.795 kiloliter. Namun, konsumsi Pertalite meningkat signifikan setelah harga BBM non-subsidi naik.
Warga Makassar mengeluhkan antrean panjang yang terjadi berbulan-bulan, bahkan harus antre sambil menonton drama Korea di beberapa SPBU, meskipun Pertamina menegaskan stok BBM aman.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow