Ardhito Pramono Ungkap Masalah Hak Cipta Lagu di Korea Selatan
Musisi jazz-pop Indonesia, Ardhito Pramono, kini menghadapi persoalan serius terkait hak cipta karyanya. Dilansir dari Detikcom, sejumlah lagu miliknya diduga diputar tanpa izin di televisi Korea Selatan, khususnya oleh mantan label rekamannya, Sony Music Entertainment.
Padahal, lagu-lagu Ardhito telah menjadi bagian tak terpisahkan dari konten-konten estetik di negeri ginseng tersebut. Popularitas karya-karyanya justru tak diimbangi dengan transparansi perizinan yang jelas, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi sang pencipta.
Salah satu lagu yang jadi sorotan adalah Say Hello. Dirilis pada 2019 melalui EP A Letter to My 17 Year Old Self, lagu ini menawarkan vibe easy listening dengan sentuhan piano yang menarik. Di Korea Selatan, lagu ini kerap digunakan sebagai backsound adegan santai yang mampu meningkatkan mood penonton. Sayangnya, kepopuleran ini tak disertai konfirmasi resmi mengenai penggunaan hak ciptanya.
Fine Today juga tak ketinggalan. Lagu yang menjadi Original Soundtrack (OST) film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) ini sukses menyentuh hati banyak orang melalui liriknya yang menenangkan. Meski demikian, Ardhito mengaku tak menerima informasi resmi mengenai penggunaan lagu ini di luar negeri.
Tidak hanya itu, 925 yang berasal dari EP Craevy (2020) juga kerap diputar di berbagai program televisi Korea. Lagu bertema rutinitas kerja kantoran ini menawarkan gaya musik swing-jazz yang terasa klasik. Ironisnya, lagu yang mengisahkan kerja keras ini justru tak memberikan keuntungan royalti yang seharusnya diterima Ardhito.
Bitterlove pun tak luput dari perhatian. Lagu yang menceritakan kisah cinta manis-pahit ini telah menjadi semacam lagu kebangsaan di kafe-kafe, tak terkecuali di Korea Selatan. Popularitasnya yang meledak membuat lagu ini sering muncul di konten-konten viral. Ardhito sendiri mengaku terkejut mengetahui lagunya beredar luas tanpa kabar resmi mengenai hak ciptanya.
Dalam misi mencari keadilan, Ardhito menekankan bahwa ia tidak keberatan jika karyanya digunakan di luar negeri. Bahkan, ia merasa senang karena karya-karyanya diapresiasi. Namun, yang menjadi masalah adalah kurangnya transparansi dari mantan labelnya, Sony Music Entertainment, dalam hal perizinan.
Sebagai musisi independen, Ardhito hanya berharap agar hak-haknya sebagai pencipta dapat dihargai. Kasus ini menyoroti pentingnya perlindungan hak cipta, terutama bagi seniman yang karyanya telah diakui secara internasional.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow