Arsitek Ungkap Alasan Bangunan Mal Lebih Sering Melebar
Pusat perbelanjaan atau mal umumnya dirancang memanjang secara horizontal daripada menjulang tinggi ke atas. Bentuk bangunan horizontal sengaja dipilih demi memberikan kemudahan serta kenyamanan pergerakan bagi para pengunjung, dikutip dari Detikcom. Meskipun beberapa mal memiliki struktur ramping, mayoritas tempat perbelanjaan identik dengan pola melebar.
Penataan arsitektur tersebut disesuaikan dengan kebiasaan umum masyarakat ketika berbelanja di dalam area komersial. Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, Teguh Aryanto, menjelaskan bahwa tidak ada panduan baku dalam merancang sebuah pusat perbelanjaan. Meski demikian, gedung mal harus memiliki ciri khas unik serta desain menarik.
Sirkulasi pergerakan pengunjung juga menjadi aspek vital yang perlu dirancang secara cermat. Perencanaan tata ruang yang tepat akan mempermudah alur mobilitas para konsumen saat mengitari berbagai area toko.
"Kecenderungan pengunjung tidak bergerak secara vertikal namun lebih ke arah horizontal," kata Teguh Aryanto. Karakteristik pengunjung tersebut memberikan dampak langsung terhadap nilai ekonomis ruangan. Semakin tinggi tingkat lantai bangunan mal, maka tarif sewa unit di bagian atas akan menjadi kian murah.
Teguh Aryanto menambahkan bahwa mal merupakan jenis bangunan komersial, sehingga pembagian areanya harus diperhitungkan dengan teliti. Pengembang perlu memperhitungkan aspek keuntungan finansial tanpa mengabaikan tingkat keselamatan pengunjung. Faktor kenyamanan konsumen juga menjadi perhatian utama dalam proses perancangan gedung. Pengaturan tata letak yang proporsional akan menciptakan pengalaman berbelanja yang menyenangkan bagi masyarakat.
Pengaruh Ketersediaan Lahan dan Inovasi Konsep
Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, membenarkan dominasi gedung horizontal. Model bangunan ini sangat memfasilitasi pengunjung untuk berjalan mengelilingi seluruh area mal. Namun, bentuk arsitektur pusat perbelanjaan sebenarnya sangat menyesuaikan dengan kondisi lahan yang tersedia di lapangan.
Bentuk mal tidak selalu melebar jika ketersediaan lahan sangat terbatas. "Bukan berarti tidak ada pusat perbelanjaan yang vertikal. Cukup banyak pusat perbelanjaan yang terdiri dari lebih 10 lantai dan ramai dikunjungi," kata Alphonzus Widjaja.
Alphonzus Widjaja juga menyatakan tidak adanya pedoman khusus saat mendesain sebuah pusat perbelanjaan. Pengusaha dituntut untuk senantiasa menghadirkan inovasi baru agar bisnis tetap relevan.
Keberhasilan suatu pusat perbelanjaan sangat ditunjang oleh kemampuan pengelola dalam melahirkan konsep yang kreatif serta unik bagi para pengunjung.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow