AS Gandakan Buyback Obligasi Tenor Panjang Meredam Gejolak Pasar
Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan peningkatan skala pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah tenor panjang 10 hingga 30 tahun dari maksimal 2 miliar dolar AS menjadi minimal 4 miliar dolar AS per operasi pada Rabu (19/8/2026).
Kebijakan yang bakal berlaku efektif mulai 9 September hingga 4 November 2026 tersebut dirancang untuk menambah likuiditas pasar serta meredam lonjakan imbal hasil SBN yang sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007 di angka 5,34 persen.
Menteri Keuangan Republik Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa menilai langkah otoritas keuangan Amerika Serikat tersebut mengonfirmasi bahwa strategi intervensi pasar yang lebih dahulu diterapkan oleh Indonesia telah selaras dengan standar internasional.
"Itu menunjukkan apa yang kita lakukan ya memang standar internasional, mungkin Amerika niru kita juga tuh, berhasil dia ikut. Tapi jelas concern-nya sama, dia akan melakukan itu untuk menambah likuiditas di sistem perekonomian," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan RI.
Indonesia sendiri telah mengeksekusi aksi buyback Surat Berharga Negara melalui skema Bond Stabilization beranggaran APBN pada Mei 2026 dengan menyerap SBN yang dilepas investor asing senilai Rp600 miliar dalam tempo lima hari.
"Jadi kalau pemerintah melihat di mana-mana ya likuiditasnya terganggu, dia akan melakukan segala cara yang halal, yang bisa dilakukan untuk memastikan ekonominya tidak terganggu. Jadi yang kita lakukan sama dengan yang Amerika lakukan," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan RI.
Langkah stabilisasi ini diumumkan Departemen Keuangan AS saat total utang publik Negeri Paman Sam menembus angka US$40 triliun untuk pertama kalinya, dengan porsi utang tenor 20 dan 30 tahun mencapai sekitar US$5,5 triliun.
Sinyal intervensi likuiditas tersebut langsung direspons positif oleh bursa global, ditandai dengan penurunan yield Treasury 10 tahun sebesar 7 basis poin ke level 4,64 persen dan pelemahan indeks DXY hingga 0,9 persen ke level 98,8.
Pasar saham Wall Street turut mencatat penguatan pada perdagangan Rabu (19/8/2026), di mana indeks Dow Jones naik 0,22 persen ke 53.463,05, S&P 500 menguat 0,21 persen ke 7.707,98, dan Nasdaq bertambah 0,16 persen ke level 26.331,09.
"Perdagangan aset berisiko kembali mendapat dorongan setelah kebijakan yang diumumkan Menteri Keuangan Bessent membantu meredakan tekanan dari kenaikan yield obligasi," kata Carol Schleif, Chief Market Strategist BMO Private Wealth.
Meskipun sentimen positif merambah pasar modal, kalangan analis mengingatkan bahwa program pembelian kembali obligasi ini belum menyelesaikan tantangan struktural suku bunga tinggi dalam jangka panjang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow