Badan Geologi Jelaskan Peta SO2 Merah Gunung Anak Krakatau
Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda memicu pelepasan sulfur dioksida atau SO2 ke lapisan atmosfer. Gas vulkanik tersebut terdeteksi oleh satelit dan bergerak mengikuti dinamika pergerakan angin. Kemunculan warna merah pada peta sebaran SO2 di sejumlah wilayah sempat menimbulkan kekhawatiran warga.
Seperti dilansir dari Detik iNET, peta satelit tersebut sebenarnya tidak menggambarkan konsentrasi gas yang berada langsung di permukaan tanah. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan klarifikasi resmi mengenai fenomena tersebut. Pihaknya menegaskan bahwa visualisasi peta tersebut mengukur akumulasi gas pada ketinggian tertentu di atmosfer.
"Peta satelit menunjukkan jumlah SO2 di seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu, bukan konsentrasi gas di permukaan yang kita hirup," jelas lembaga tersebut seperti dikutip detikINET melalui akun @badan.geologi.
Warna merah pada peta indikator menandakan adanya anomali SO2 dengan konsentrasi yang lebih tinggi dibanding kondisi normal atmosfer. Indikasi visual ini tidak bisa serta-merta menjadi tolok ukur bahaya kualitas udara di daratan. Perbedaan mendasar juga terletak pada satuan pengukuran yang dipakai pada peta. Peta sebaran menggunakan mg/m² untuk menghitung massa gas per luas kolom udara, bukan satuan ppm yang umum mengukur konsentrasi udara hirup.
Masyarakat yang berada tepat di bawah area berwarna merah pada peta tidak otomatis menghirup gas beracun dalam kadar berbahaya. Meski demikian, bau belerang dari SO2 tetap dapat tercium pada kondisi atmosfer tertentu.
Penyebab Aroma Belerang Tercium hingga Wilayah Pemukiman
Potensi bahaya paparan gas vulkanik bagi manusia sangat bergantung pada posisi ketinggian SO2 di lapisan troposfer. Ketinggian pelepasan gas dipengaruhi oleh tipe dan karakter erupsi gunung api yang sedang berlangsung.
Badan Geologi membandingkan erupsi Gunung Ruang pada 2024 dengan erupsi Anak Krakatau pada 2026. Pada Gunung Ruang, gas terlempar hingga ketinggian 5.000 meter di bagian atas troposfer sehingga tidak langsung terhirup masyarakat.
Sementara itu, aktivitas Gunung Anak Krakatau menghasilkan fenomena lava fountain atau semburan lava menerus yang melepas gas ke atmosfer rendah. Gas yang berada dekat permukaan ini dengan mudah terbawa angin hingga tercium warga.
Dampak Kesehatan dan Langkah Pencegahan Mandiri
Sulfur dioksida merupakan gas vulkanik tanpa warna yang memiliki aroma sangat menyengat. Tingkat bahaya paparan gas ini ditentukan oleh besarnya konsentrasi serta durasi seseorang terpapar di udara terbuka. Konsentrasi SO2 pada batas hingga 5 ppm masih masuk dalam kategori aman untuk kesehatan manusia.
Paparan di atas ambang batas tersebut berpotensi memicu batuk, sesak napas, hingga iritasi mata dan saluran pernapasan. Warga yang mencium aroma SO2 disarankan memakai masker saat berada di luar ruangan dan berlindung di dalam bangunan. Warga juga dilarang meminum air hujan karena reaksi sulfur dengan uap air dapat memicu hujan asam.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih bertahan pada Level III atau Siaga. Masyarakat umum serta wisatawan dilarang keras beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat kawah aktif.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow