Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 98 Orang Ratusan Wisatawan Hilang

Smallest Font
Largest Font

Banjir bandang dahsyat melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, Tiongkok, Rabu (26/8/2026), menewaskan setidaknya 98 orang dan menyebabkan ratusan wisatawan, termasuk 341 warga negara asing, hilang. Bencana ini dipicu oleh gelombang lumpur, air, dan puing-puing yang menerjang dari sungai yang mengalir di antara kedua negara.

Juru bicara kepolisian Nepal, Abi Narayan Kafle, menyatakan 95 kematian telah dilaporkan, sementara 28 anggota polisi dinyatakan hilang. Proses pencarian korban masih berlangsung di wilayah yang terdampak parah.

"Sejauh ini 95 kematian telah dilaporkan," kata Abi Narayan Kafle.

Pilot helikopter Aman Budathoki, yang menyaksikan banjir bandang, menggambarkan ketinggian gelombang mencapai 5-6 meter. Ia awalnya mengira terjadi ledakan atau tanah longsor sebelum menyadari air banjir berwarna gelap bercampur puing-puing meluncur deras.

"Sekitar lima menit sebelum mendarat, kami melihat debu membumbung tinggi dari sungai," ujar Aman Budathoki.

"Awalnya terlihat seperti tanah longsor. Kami bahkan sempat mengira apakah tentara sedang menggunakan bahan peledak untuk pembangunan jalan," imbuhnya.

"Kami bisa melihat gelombang air setinggi lima hingga enam meter. Kami mulai berputar-putar di atas desa-desa di sana dan melihat pohon-pohon besar serta beberapa kendaraan tersapu derasnya arus," kata dia.

"Situasinya sangat menakutkan. Kami bahkan sempat mencoba mengejar alur banjir tersebut sebentar untuk menilai kerusakan yang terjadi," sambungnya.

Menurut otoritas pariwisata Nepal, ratusan peziarah, termasuk lebih dari 100 warga India, hilang. Titik perbatasan Gyirong, yang menjadi jalur utama peziarah menuju Gunung Kailash di Tibet, terdampak parah oleh gelombang lumpur dan air.

Bencana ini merusak infrastruktur kritis, termasuk pembangkit listrik, jalan raya, dan jembatan di sepanjang Sungai Bhotekoshi. Distrik Rasuwa dan Nuwakot di Nepal menjadi wilayah yang paling parah terdampak.

Presiden Tiongkok Xi Jinping memerintahkan upaya pencarian dan penyelamatan maksimal untuk korban hilang serta penguatan sistem peringatan dini guna mencegah bencana susulan. Ia menekankan pentingnya evakuasi warga yang berisiko dan pencegahan korban jiwa lebih lanjut.

"Upaya pencarian dan penyelamatan harus dilakukan sepenuhnya untuk meminimalkan korban jiwa," kata Xi Jinping.

Perusahaan logistik milik Yee Liang di Kathmandu kehilangan kontak dengan tujuh truk kontainer yang beroperasi di wilayah terdampak. "Kami kehilangan kontak dengan semuanya. Tidak ada sinyal, sehingga kami tidak dapat menghubungi siapa pun," ujar Yee Liang.

Di sisi Tibet, Guan Daoxuan dari Provinsi Sichuan kehilangan kontak dengan istrinya yang bekerja untuk perusahaan konstruksi milik negara. Ia mengatakan otoritas Nepal mencoba mengirim helikopter untuk memeriksa wilayah tersebut, tetapi angin kencang menyulitkan pesawat untuk mencapai lokasi.

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah memerintahkan polisi dan militer untuk bergabung dalam upaya penyelamatan. Ia juga menginstruksikan pemindahan warga yang tinggal di daerah rendah ke tempat yang lebih aman.

"Instruksi telah diberikan untuk memindahkan penduduk yang tinggal di daerah rendah ke tempat yang lebih aman. Masyarakat di sepanjang sungai dihimbau untuk berhati-hati dan tetap waspada," kata Balendra Shah.

Banjir bandang ini diduga dipicu oleh longsoran es dan batu dari gletser, yang menyebabkan lonjakan air mendadak di Sungai Lhende Khola, anak sungai Bhotekoshi. Otoritas Nepal memperingatkan bahwa banjir bisa semakin parah karena sungai masih terblokir di hulu.

Bencana serupa tahun lalu di wilayah yang sama menewaskan 18 orang dan menyebabkan kerugian senilai lebih dari Rs 6 miliar (£46 juta).

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed