Banjir bandang di perbatasan China-Nepal sapu 20 kilometer wilayah
Bencana banjir bandang melanda kawasan perbatasan China dan Nepal, menyapu wilayah sejauh 20 kilometer ke hilir dengan volume air dan material puing yang sangat besar, dilansir dari Detik iNET. Kejadian ini menimpa ribuan penduduk setempat dalam waktu singkat.
Banjir bandang di wilayah Pegunungan Himalaya dinilai sebagai peristiwa yang lumrah. Data ilmiah menunjukkan bencana ini bermula dari runtuhnya gletser di utara Pegunungan Langtang, Nepal tengah, dekat perbatasan China.
"Kejadian ini lebih merupakan hal lumrah daripada pengecualian," ujar Niels Hovius, Kepala Geomorphology Section di GFZ Helmholtz Center for Geosciences, Jerman.
Runtuhnya gletser memicu longsoran es raksasa yang meluncur dengan cepat menuruni lereng. Panas akibat gesekan mencairkan es menjadi air, yang kemudian menyapu puing-puing dan lumpur, membentuk aliran lumpur berkecepatan tinggi.
"Runtuhnya gletser mengirim es dalam jumlah besar dengan sangat cepat menuruni lereng," kata Hovius.
Instrumen seismologi merekam gempa bermagnitudo 4,4 saat gletser runtuh. Hovius menjelaskan bahwa gempa tersebut bukan gempa tektonik, melainkan akibat kekuatan jatuhnya gletser.
Banjir bandang di pegunungan tinggi dapat dipicu oleh runtuhnya gletser atau jebolnya danau glasial (GLOF). Namun, dalam kasus ini, bencana bukan disebabkan oleh GLOF. Tanah longsor juga dapat memicu aliran lumpur mematikan tanpa melibatkan gletser atau danau glasial.
Lembah-lembah di Himalaya relatif lebih sempit dibandingkan Pegunungan Alpen, sehingga air dan lumpur tertekan ke ruang sempit, meningkatkan kedalaman dan kecepatan arus. Tingkat kerusakan bergantung pada jarak penduduk dari sumber bencana.
Nepal menghadapi dua tantangan utama: banyak penduduk bermukim di sepanjang bantaran sungai yang rentan banjir bandang, dan sistem peringatan dini yang sangat terbatas.
"Ada beberapa inisiatif di Nepal untuk membangun sistem peringatan dini akustik lokal," ujar Hovius.
Sistem peringatan dini saat ini hanya mencakup 1% dari area berisiko. Hovius menambahkan, smartphone dapat dimanfaatkan untuk mengirimkan peringatan melalui notifikasi. Evaluasi juga perlu dilakukan terhadap perencanaan permukiman, yang saat ini terkonsentrasi di sepanjang aliran sungai.
"Orang-orang turun dari pegunungan dan menetap di lembah-lembah beberapa dekade terakhir. Mungkin masuk akal jika mereka kembali pindah ke dataran lebih tinggi," ujarnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow