Banjir Bandang Nepal Telan 1.344 Korban dan Pukul Sektor Pariwisata

Smallest Font
Largest Font

Bencana banjir bandang yang dipicu runtuhnya gletser di kawasan Langtang sejak 26 Agustus 2026 menewaskan 1.344 orang di Nepal dan memukul industri pariwisata lokal akibat maraknya pembatalan pemesanan dari wisatawan mancanegara.

Hingga 5 September 2026, otoritas Nepal mencatat sebanyak 4.887 orang masih dinyatakan hilang, termasuk 583 warga negara asing. Sementara di wilayah perbatasan Tibet, bencana aliran lumpur dan material es tersebut merenggut 31 korban jiwa dan menyebabkan 531 orang hilang.

Dampak kerusakan infrastruktur serta ancaman keselamatan memicu penurunan drastis jumlah pengunjung pada awal musim liburan utama. Pemilik hostel Wander Thirst di Kathmandu, Saroj Bhandari, memaparkan situasi kelangsungan bisnisnya di tengah bencana tersebut.

"Dalam beberapa hari terakhir, wisatawan telah membatalkan pemesanan tepat saat Nepal memasuki musim wisata paling ramai, dari 15 September hingga 15 November," ujar Saroj Bhandari, pemilik hostel Wander Thirst.

Bhandari memprediksi tingkat keterisian tempat usahanya merosot hingga 60 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai penuh, dengan pembatalan didominasi oleh wisatawan asal Eropa.

"Kali ini hanya sebagian kecil wilayah Nepal yang terdampak banjir, namun banyak wisatawan menganggap berkunjung ke Nepal tidak aman karenanya," ujar Bhandari.

Kerugian pada sektor pariwisata diprediksi memerlukan dana pemulihan hingga US$ 4-5 miliar atau setara Rp 88 triliun. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pendaki Gunung Nepal, Rajendra Bahadur Lama, menilai tragedi ini sebagai evaluasi menyeluruh bagi industri pariwisata berbasis iklim.

"Bencana ini tidak boleh dipandang sebagai akhir dari wisata petualangan Nepal; ini harus menjadi panggilan untuk sadar dan bertindak," ujar Rajendra Bahadur Lama, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pendaki Gunung Nepal.

Lama menegaskan pentingnya perancangan ulang rute pendakian dan destinasi wisata agar lebih tahan terhadap risiko tanah longsor dan banjir bandang di masa depan.

"Wisatawan mancanegara kini semakin sadar akan isu perubahan iklim dan faktor keselamatan," tambah Rajendra Bahadur Lama, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pendaki Gunung Nepal.

Di tengah ancaman aliran debris yang menjangkau radius hingga 100 kilometer, aksi tanggap cepat sempat dilakukan di tingkat lokal. Keputusan krusial yang diambil oleh Rajendra Dawadi berhasil mengevakuasi dan menyelamatkan 900 siswa Sekolah Menengah Tribhuvan Trishuli sesaat sebelum banjir menghantam area sekolah.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed