Bank Indonesia Ungkap Indonesia Negara Kedua Paling Rentan Penipuan Digital
Satu dari dua orang Indonesia terpapar penipuan digital dalam setahun terakhir, menjadikan Indonesia sebagai negara kedua paling rentan terhadap penipuan digital menurut Global Fraud Index 2026, kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta.
Filianingsih menyebutkan estimasi kerugian akibat penipuan digital ini mencapai Rp 16.480 triliun, menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap modus penipuan yang terus berkembang.
Dia menjelaskan bahwa pelaku penipuan kini lebih mengandalkan teknik social engineering atau manipulasi psikologis daripada kemampuan meretas sistem atau hacker.
"Ilmu menipu zaman now. Mereka tidak perlu hacker tetapi cukup memahami psikologi. Bapak Ibu pasti mengalami kalau ada WA yang mengatakan, 'ini Anda melakukan belanja Rp 1 juta, Rp juta, Rp 1 juta terus.
Benar tidak di e-commerce ini?' Nah kita panik kan, jangan-jangan kita di-hack ini," ujar Filianingsih dalam acara Lampung Financial Festival 2026, Sabtu (5/9/2026).
Filianingsih menambahkan, pelaku penipuan kemudian meminta data pribadi seperti PIN dan nomor rekening dengan memanfaatkan kepanikan korban.
"Lalu mereka menanyakan, untuk itu bisa dibantu tolong diberikan pinnya, tolong diberikan nomor tabungan, dan lain-lain, dan kita akan panik. Jadi, penipuan bisa melalui call center tiruan, OTP scam, rekening palsu, link donasi yang fiktif. Nah ini yang diperlukan adalah psikologi tadi," lanjutnya.
Bank Indonesia terus memperkuat sistem pengawasan keuangan digital untuk menjaga stabilitas sistem pembayaran nasional dan perlindungan konsumen dari ancaman penipuan tersebut.
"Kita di Bank Indonesia kita punya satu departemen khusus untuk surveillance sistem pembayaran dan perlindungan konsumen," kata Filianingsih.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow