Pasar Obligasi Global Tertekan di Tengah Lonjakan Utang AS
Pasar obligasi negara maju mengalami tekanan berat setelah aksi jual investor mendorong lonjakan imbal hasil (yield) di tengah kekhawatiran kenaikan suku bunga bank sentral dan lonjakan utang pemerintah AS hingga melewati level psikologis 40 triliun dolar AS pada September 2026.
Tekanan di pasar obligasi global tereskalasi setelah Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 2,5 persen pada Kamis (10/9/2026). Bank sentral AS (The Fed) dan Bank of Japan (BOJ) juga diproyeksikan bakal mengekor langkah tersebut dalam pertemuan pekan mendatang.
Data Refinitiv mencatat yield Treasury AS tenor 10 tahun melonjak ke level 4,975 persen pada Jumat (11/9/2026), mendekati level 5 persen. Sementara itu, yield tenor 2 tahun melesat hingga 4,644 persen, menjadi posisi tertinggi sejak Juli 2024 akibat sensitivitas terhadap ekspektasi kebijakan moneter The Fed.
Ekspektasi kenaikan suku bunga dipicu oleh Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang naik 0,4 persen secara bulanan pada Agustus 2026, menjaga inflasi tahunan di angka 3,4 persen atau masih berada di atas target 2 persen. Kondisi ini diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah Brent yang menembus 104,61 dolar AS per barel menyusul konflik di Timur Tengah.
Kekhawatiran pasar kian mendalam menyusul keterbatasan langkah efektivitas operasi buyback oleh Departemen Keuangan AS di bawah Menteri Keuangan Scott Bessent, yang hanya membeli 5,19 miliar dolar AS dari target 6 miliar dolar AS untuk obligasi tenor 10 hingga 20 tahun pada Kamis (10/9/2026).
George Catrambone, Kepala Fixed Income DWS Americas, menilai upaya pemerintah AS tidak sebanding dengan besarnya tekanan fiskal yang ada.
"Bessent seperti membawa pistol air ke dalam baku tembak. Langkah tersebut tidak cukup untuk meredam premi yang diminta investor untuk membeli obligasi AS bertenor 30 tahun di tengah kekhawatiran mengenai utang, defisit, dan inflasi," kata George Catrambone, Kepala Fixed Income DWS Americas.
Pergerakan di pasar minyak dan biaya energi turut dinilai membatasi ruang penurunan imbal hasil obligasi dalam waktu dekat.
Tony Farren, Managing Director Bidang Rates Sales and Trading di Mischler Financial Group, memperingatkan dampak sistematis dari kenaikan komoditas energi tersebut.
"Harga minyak mentah mendorong inflasi. Jika dampaknya mulai masuk ke perekonomian, akan sulit untuk mengendikalikannya," kata Tony Farren, Managing Director Bidang Rates Sales and Trading di Mischler Financial Group.
Tony Farren menambahkan mengenai pergerakan yield pasar uang.
"Tidak ada ruang bagi yield untuk turun jika inflasi tetap tinggi," kata Tony Farren, Managing Director Bidang Rates Sales and Trading di Mischler Financial Group.
Sikap hati-hati Departemen Keuangan AS dalam mengeksekusi buyback turut memicu berbagai tanggapan dari analis Wall Street yang melihat adanya pola transaksi baru.
Molly Brooks, Ahli Strategi di TD Securities, memberikan alasannya terkait hasil pembelian yang berada di bawah batas maksimal tersebut.
"Ini menunjukkan bahwa Departemen Keuangan lebih selektif dari biasanya dalam transaksi tersebut," kata Molly Brooks, Ahli Strategi di TD Securities.
Ketidakpastian ini membuat para pelaku pasar terus memantau strategi lanjutan dari pemerintah AS dalam mengelola utang dan menstabilkan pergerakan imbal hasil.
Ben Emons, Managing Director Bidang Fixed Income di Highline Asset Management, menyebut pasar sedang menguji respons kebijakan pemerintah.
"Bessent membuat pasar terus menebak-nebak. Pasar mendorong Bessent untuk menunjukkan seluruh langkahnya dengan terus mendorong yield lebih tinggi," kata Ben Emons, Managing Director Bidang Fixed Income di Highline Asset Management.
Tekanan pasar turut dibebani oleh posisi utang pemerintah AS yang mencapai US$40,074 triliun pada 9 September 2026 berdasarkan data Debt to the Penny U.S. Treasury, di mana terjadi pembengkakan utang sekitar US$3,868 triliun selama 20 bulan pertama periode kedua pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dalam ranah domestik Indonesia, lonjakan yield pasar global berimbas pada pasar keuangan dalam negeri. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memaparkan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah terpengaruh oleh kondisi eksternal tersebut.
"Dolar AS berada di bawah tekanan seiring investor mengantisipasi pengumuman Departemen Keuangan AS mengenai besaran rencana buyback surat utang UST bertenor panjang," kata Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank.
Josua Pardede menuturkan pergerakan mata uang rupiah di tengah tekanan pasar global.
"Hari ini, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp17.475-Rp17.600 per dolar AS," kata Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank.
Dampak pengetatan pasar obligasi global ini juga terlihat pada Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun Indonesia yang mengalami kenaikan yield sebesar 6 bps menjadi 7,156 persen pada Jumat (11/9/2026).
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow