BI Optimalkan Transaksi Mata Uang Lokal Redam Depresiasi Rupiah
Bank Indonesia mengoptimalkan mekanisme Local Currency Transaction atau LCT dengan negara mitra dagang untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat. Langkah strategis ini dipaparkan dalam pelatihan wartawan di Makassar pada Jumat (22/5/2026) sebagai respon atas pelemahan nilai tukar rupiah.
Skema pengalihan mata uang ini bertujuan meningkatkan efisiensi biaya transaksi serta memperluas akses pasar keuangan regional. Melalui sistem ini, pelaku usaha Indonesia dan negara mitra dapat menyelesaikan transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal tanpa perlu mengonversinya ke dolar Amerika Serikat terlebih dahulu.
Urgentnya implementasi sistem ini semakin meningkat setelah Amerika Serikat mengumumkan kebijakan tarif impor baru pada tahun 2025. Data bank sentral menunjukkan volume transaksi LCT sepanjang Januari hingga April 2026 telah menembus angka setara 22,61 miliar dolar Amerika Serikat.
Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth A. Cussoy, menjelaskan bahwa kebijakan ini bukan merupakan bentuk penghindaran terhadap penggunaan mata uang global.
"Bukan kami menghindari dolar AS, karena kami tahu global itu masih [menggunakan dolar]. Tetapi untuk negara-negara yang memang transaksinya banyak langsung dengan domestik, kenapa harus pakai dolar dulu, karena kalau muter sudah pasti ada middle-man, sudah pasti enggak efisien. Itu inti dari LCT sebenarnya," jelas Ruth pada acara pelatihan wartawan yang diselenggarakan di Makassar, Jumat (22/5/2026).
Pihak bank sentral menyatakan optimisme terhadap pertumbuhan instrumen ini mengingat realisasi awal tahun 2026 hampir menyamai total volume sepanjang 2025 yang mencapai 25,72 miliar dolar Amerika Serikat. Bank Indonesia juga berencana memperluas jaringan kerja sama ini ke beberapa negara baru dalam waktu dekat.
"Ini to be implemented dalam waktu dekat adalah SGD, [Rupee] India dan [Riyal] Arab Saudi," pungkas Ruth.
Urgensi perluasan kerja sama ini didukung oleh situasi pasar yang menunjukkan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat telah melebihi 5 persen secara tahun berjalan. Mayoritas mata uang di kawasan Asia juga mengalami tekanan serupa di hadapan mata uang bertenaga tersebut.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk., Josua Pardede, mengonfirmasi bahwa posisi kurs rupiah melemah terhadap sebagian besar mata uang utama Asia lainnya.
"Yang paling dalam kita melemah terhadap Ringgit Malaysia, lalu yang kedua terhadap Singapura dolar, yang berikutnya terhadap Hong Kong, terhadap Yuan," jelas Josua.
Tekanan terhadap mata uang domestik dipengaruhi oleh kombinasi faktor ketidakpastian global serta siklus kebutuhan valuta asing internal pada kuartal kedua tahun 2026. Kebutuhan tersebut meliputi pembiayaan musim haji, pembayaran utang luar negeri, serta repatriasi dividen perusahaan.
Josua mendorong agar implementasi transaksi mata uang lokal segera direalisasikan untuk sektor-sektor strategis seperti operasional haji dengan Arab Saudi guna menekan permintaan konversi dolar.
"Makanya memang kita juga perlu menggalakkan tadi namanya LCT, jadi saya juga menyuarakan juga LCT. Sekalipun memang juga harapannya pun kita juga mendorong Bank Indonesia menyuarakan ke peers central bank lain juga," ujarnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow