BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Emerging Market Melambat Jadi 39 Persen

Smallest Font
Largest Font

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negara-negara emerging market melambat menjadi 3,9 persen pada 2026 akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sebagaimana dilansir dari Detik Finance pada Selasa (1/9/2026).

Kondisi geopolitik tersebut memicu kenaikan inflasi global hingga kisaran 4,5 persen sekaligus memperkuat nilai tukar dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia.

Pejabat Gubernur Sementara (Pgs) BI, Destry Damayanti, menyampaikan proyeksi tersebut saat menghadiri Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

"Ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas pada awal Juli dan mengancam intern deal yang dilakukan pada pertengahan Juni 2026. Akibatnya prospek pertumbuhan ekonomi dunia 2026 akan tetap lemah sebesar 3%, penurunan terjadi baik di negara emerging market yang melambat menjadi sebesar 3,9%, maupun negara maju yang hanya tumbuh diperkirakan sebesar 1,7%," ungkap Destry dalam Raker bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Tekanan geopolitik ini juga berdampak mendalam pada arus modal global dan stabilitas nilai tukar di berbagai negara berkembang.

"Hal ini sejalan dengan tingginya suku bunga di AS, pelarian modal di emerging market ke Amerika Serikat, dan tingginya risiko global tersebut. Seluruh kondisi ini memberikan tekanan pelemahan nilai tukar, hampir seluruh mata uang dunia dengan tekanan yang lebih besar pada mata uang negara emerging market, termasuk Indonesia," terangnya.

Meskipun situasi global penuh ketidakpastian, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berdaya tahan pada kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen pada 2026, serta meningkat ke kisaran 5,2 persen hingga 6 persen pada 2027.

Dukungan terhadap ekonomi domestik bakal ditopang oleh penguatan investasi nasional serta keterlibatan lembaga investasi strategis.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 dan 2027 diperkirakan tetap baik. Pada tahun 2026, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,9% hingga 5,7%. Sementara di 2027, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan meningkat dalam kisaran 5,2% hingga 6% didukung keyakinan pelaku ekonomi yang meningkat serta kenaikan investasi khusus yang berasal dari Danantara," jelasnya.

Adapun realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,6 persen pada kuartal I-2026 dan 5,29 persen pada kuartal II-2026, yang didorong oleh stimulus fiskal, kenaikan belanja pegawai, gaji ke-13, serta anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Indikator ekonomi domestik pada kuartal III-2026 juga menunjukkan tren positif yang terlihat dari kenaikan Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP) dan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur pada Juli 2026.

"Perkembangan terkini pada triwulan III-2026 menunjukkan kegiatan ekonomi di dalam negeri tetap baik. Indeks ekspektasi penghasilan pada Juli 2026 tetap terjaga pada semua kelompok penghasilan didorong dampak percepatan konsumsi pemerintah, meskipun perlu terus ditingkatkan untuk memanfaatkan momentum kuatnya stimulus fiskal," pungkasnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed