BMKG Identifikasi Dentuman di Bandung sebagai Fenomena Skyquake

Smallest Font
Largest Font

BMKG menduga dentuman misterius yang terdengar di wilayah Bandung Raya pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari merupakan fenomena skyquake atau dentuman langit.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, menjelaskan bahwa pihaknya telah memeriksa data kegempaan, petir, cuaca, dan magnet bumi untuk mencari penyebab dentuman tersebut.

"Di Bandung Raya terkait dengan dentuman, dentuman, ya. Jadi fenomena ini juga pernah terjadi di wilayah Bogor, ya. Itu bulan April 2020, yang kita kenal dengan fenomena skyquake," ujar Suaidi.

BMKG mencatat tidak ada aktivitas kegempaan signifikan di Bandung Raya saat dentuman terdengar, dan kondisi cuaca umumnya cerah. Data seismik dari Sesar Lembang juga menunjukkan tidak ada aktivitas yang berkembang saat dentuman terjadi.

"Hasil data dari seismik, ya. Data hasil dari seismik kita bahwa aktivitas seismik di Sesar Lembang tidak signifikan. Artinya, tidak ada aktivitas seismik yang berkembang pada saat jam yang kita curigai," kata Suaidi.

Pemantauan citra satelit Himawari juga tidak menunjukkan pengumpulan awan di Bandung Raya saat dentuman dilaporkan, namun terdapat aktivitas vulkanik di sekitar Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama.

"Jadi, aktivitas sky earthquake ini, skyquake, ya, maksudnya dentuman langit. Kita curigai adanya fenomena yang tidak lazim, ya. Artinya rekaman darat itu kita curigai sebagai aktivitas Krakatau, ya, baik dari data informasi satelit, citrawan, dan aktivitas magnetik, juga dari data petir, ya," ujar Suaidi.

Meski begitu, aktivitas petir di Bandung Raya terpantau sangat sedikit dibanding wilayah sekitar Gunung Anak Krakatau yang mengalami konsentrasi petir cukup dominan.

"Nah, ini ternyata pas kejadian aktivitas tersebut itu memiliki aktivitas konsentrasi thunderstorm atau petir yang sangat dominan di wilayah Krakatau. Menariknya adalah di Kota Bandung, Bandung sekitarnya, itu sedikit sekali petir," lanjutnya.

BMKG menerima laporan bahwa warga di Banten dan Jakarta tidak merasakan dentuman langit meski aktivitas vulkanik di Krakatau sedang berlangsung.

"Jadi fenomena aktivitas vulkanik di Krakatau itu warga warga Banten dan sekitarnya dan Jakarta tidak melaporkan adanya dentuman atau skyquake ini, dentuman langit ya," jelas Suaidi.

BMKG masih mempelajari kemungkinan penyebab dentuman yang hanya terdengar di Bandung Raya dan sekitarnya, dan memperkirakan fenomena ini berkaitan dengan aktivitas gas metana di danau purba di wilayah Bandung.

"Ini memang belum terjawab, tapi ada literatur yang menjawab bahwa aktivitas sky skyquake tadi ya, mungkin adanya aktivitas gas metana yang ada di danau purba. Karena di Bandung tahun kita ketahui bersama bahwa Kota Bandung dan sekitarnya itu di atas Danau Purba ya Danau Bandung ya. Jadi ini yang menjadi kecurigaan kita," paparnya.

Menurut BMKG, fenomena dentuman ini tidak menyebabkan aktivitas aneh yang dilaporkan masyarakat di wilayah lain seperti Jakarta, Banten, dan Bogor.

"Jadi kita tidak mendapat laporan dari teman-teman dari Jakarta, dari Banten, dan dari Kota Bogor, Kabupaten Bogor sekitarnya. Ya artinya fenomena aktivitas vulkanik yang ada di Krakatau yang kebetulan bersamaan pada jam tersebut itu artinya tidak memiliki efek dentuman langit atau yang kita sebut dengan skyquake ya," tutup Suaidi.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed