BNPB Dan Tim Gabungan Intensifkan Pemadaman Karhutla Di Indonesia
Badan Nasional Penanggulangan Bencana bersama tim gabungan terus memperkuat operasi darat dan udara guna menangani kebakaran hutan dan lahan yang menerjang berbagai wilayah di Indonesia hingga Agustus 2026. Penanganan intensif dilakukan menyusul ditemukannya ribuan titik panas akibat cuaca panas dan kekeringan ekstrem.
Data dari SINDOgrafis mencatat sebanyak 9.330 titik panas terdeteksi di wilayah Indonesia pada Senin, 24 Agustus 2026. Meskipun jumlah tersebut telah mengalami penurunan sebanyak 2.295 titik dibandingkan periode sebelumnya, penanganan dari udara dan darat tetap ditingkatkan.
Di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, kebakaran meluas hingga 396,13 hektare di tujuh distrik sejak 18 Juli hingga 23 Agustus 2026. BPBD Kabupaten Nabire melaporkan sebagian titik api masih sulit dipadamkan karena keterbatasan akses armada darat, sehingga membutuhkan bantuan Helikopter pembawa air.
Sementara di wilayah Kalimantan Barat, BNPB memfokuskan penguatan operasi udara dengan mengerahkan empat unit armada pembawa air. Pada Minggu, 23 Agustus 2026, helikopter melakukan 223 kali penjatuhan air sebanyak 1,052 juta liter untuk memadamkan lahan seluas 13 hektare, disokong operasi modifikasi cuaca dan 2.751 personel satgas darat.
Upaya serupa berlangsung di Kalimantan Tengah dengan keterlibatan 10.700 personel gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan Manggala Agni. Tiga helikopter pembawa air mencatatkan 159 kali penjatuhan air, sementara Satgas darat menangani 55,63 hektare area terbakar setelah pemantauan udara mendeteksi 25 titik api.
Di Kalimantan Selatan, dua helikopter pembawa air menyiramkan 1,029 juta liter air melalui 243 kali penjatuhan air. Penanganan karhutla skala lokal juga diselesaikan tim gabungan di Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Maluku Utara, Jawa Timur, dan Aceh.
Berdasarkan riset berjudul Climate change has increased the odds of extreme regional forest fire years globally yang terbit di jurnal Nature Communications, fenomena perubahan iklim akibat aktivitas manusia meningkatkan risiko kebakaran hutan ekstrem secara global sebesar 88 hingga 152 persen pada periode 2011–2040 dibandingkan masa pra-industri.
Studi tersebut menjelaskan bahwa kombinasi suhu tinggi, kelembapan rendah, dan kekeringan udara memicu cuaca panas berkepanjangan yang mempermudah penyebaran api. Kondisi ini diperparah oleh aktivitas deforestasi serta pembukaan lahan industri di kawasan hutan tropis seperti Indonesia.
Laporan BBC News Indonesia menyebutkan bahwa selain faktor alam seperti El Nino, degradasi lingkungan di Kalimantan dipengaruhi oleh riwayat eksploitasi hutan dan peninggalan proyek lahan gambut sejak era Orde Baru. Data organisasi lingkungan Pantau Gambut periode 2015–2019 menunjukkan pola kebakaran berulang kerap terjadi di dalam area konsesi perusahaan.
Selain karhutla, bencana kekeringan turut melanda Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dampak penurunan curah hujan tersebut menyebabkan 10.364 jiwa krisis air bersih, yang disikapi BPBD setempat dengan menyalurkan total 363.800 liter air bersih sejak 8 hingga 23 Agustus 2026.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow