BPS Catat Inflasi Indonesia Capai 3,19 Persen pada Agustus 2026
Badan Pusat Statistik mencatat perekonomian Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan dan 3,19 persen secara tahunan pada Agustus 2026. Laju Indeks Harga Konsumen naik dari 108,51 pada Agustus 2025 menjadi 111,97 pada Agustus 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan perkembangan kenaikan indeks harga tersebut dalam konferensi pers di Jakarta pada Selasa, 1 September 2026. Secara tahun kalender, angka inflasi tercatat berada di level 1,86 persen.
Ateng Hartono menjelaskan pendorong utama kenaikan harga bulanan.
"Terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,51 pada Agustus 2025 menjadi 111,97 pada Agustus 2026," kata Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS.
Peningkatan IHK terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 0,57 persen dengan andil 0,17 persen, khususnya didorong oleh kenaikan harga daging ayam ras. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberi andil 0,03 persen akibat kenaikan harga emas perhiasan.
Ateng Hartono memaparkan rincian angka inflasi bulanan dan tahunan tersebut secara terbuka.
"Pada Agustus 2026 terjadi inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan atau month to month. Secara tahunan atau year on year terjadi 3,19 persen," kata Ateng Hartono, Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS.
Sektor pangan bergejolak mengalami tekanan kenaikan harga pada sejumlah komoditas utama. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional mencatat harga cabai rawit melonjak 10,60 persen menjadi Rp61.855 per kilogram dan daging ayam naik 8,22 persen menjadi Rp41.348 per kilogram, disusul kenaikan cabai merah dan beras.
Ateng Hartono menegaskan peran kelompok komoditas utama terhadap laju inflasi bulanan.
"Selain makanan, minuman, dan tembakau, kelompok perawatan pribadi dan Jasa lainnya juga memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,03 persen dengan inflasi sebesar 0,37 persen," lanjut Ateng Hartono, Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS.
Tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga pada kelompok transportasi yang mengalami deflasi 0,50 persen. Penurunan tarif angkutan udara memberikan andil deflasi 0,06 persen, sementara penyesuaian harga BBM non-subsidi seperti Pertamax series memberikan andil deflasi 0,03 persen. Komoditas bawang merah dan bawang putih juga mengalami penurunan harga yang membantu meredam inflasi pangan.
Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri memproyeksikan pergerakan harga pangan ke depan.
"Tekanan harga pangan dapat berlanjut di tengah gangguan produksi akibat El Nino dan musim kemarau, meskipun penurunan harga bawang putih dan bawang merah memberikan sedikit penahan," tulis Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri.
Ekonom Bank Maybank Indonesia Juniman menguraikan faktor pendorong inflasi dari berbagai sektor penunjang.
"Inflasi Agustus terutama didorong oleh kenaikan harga pangan seperti beras, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur, cabai merah, dan kedelai," ujar Juniman, Ekonom Bank Maybank Indonesia.
Juniman menambahkan bahwa biaya pendidikan perguruan tinggi serta lonjakan harga barang impor turut memberi tekanan tambahan.
"Biaya pendidikan meningkat sejalan dengan dimulainya tahun ajaran baru untuk akademi dan universitas," ujar Juniman, Ekonom Bank Maybank Indonesia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow