Buya Anwar Abbas Harapkan Muktamar ke-35 NU Perkuat Ukhuwah Islamiyah
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Ketua PP Muhammadiyah Buya Anwar Abbas berharap pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, dapat memperkuat persatuan umat Islam serta menghasilkan pimpinan yang visioner.
Harapan tersebut disampaikan Buya Anwar Abbas di Jakarta pada Ahad (30/8/2026). Ia menekankan pentingnya kepemimpinan NU periode mendatang dalam menjalankan amanat organisasi untuk lima tahun ke depan demi kemajuan bangsa dan negara.
"Harapan saya semoga Muktamar bisa berjalan dengan baik dan lancar. Di samping itu, Muktamar juga diharapkan akan dapat melahirkan program-program kerja yang akan bisa membuat NU dan umat Islam serta bangsa dan negara kita akan semakin lebih baik dan lebih maju lagi," ujar Buya Anwar Abbas, Wakil Ketua Umum MUI.
Pengamat sosial ekonomi dan keagamaan tersebut juga mengaitkan pentingnya persatuan ini dengan pengalamannya saat mengunjungi Iran bersama delegasi MUI pada 2008. Saat itu, salah satu tokoh hierarki kepemimpinan Iran menyampaikan pesan khusus agar keharmonisan antara NU dan Muhammadiyah terus dipelihara.
"Umat Islam akan kembali memimpin dunia," kata Buya Anwar Abbas menirukan ucapan tokoh tersebut.
Tokoh tersebut meyakini bahwa kepemimpinan dunia Islam masa depan akan lahir dari Indonesia. Oleh karena itu, hubungan persaudaraan antara dua ormas terbesar di Indonesia menjadi kunci utama.
"Untuk itu, kata sang Ayatullah, saya titip pesan satu: tolong ukhuwah Islamiyah antara NU dan Muhammadiyah dijaga," kata Buya Anwar Abbas.
Menurutnya, menjaga kerukunan dapat dilakukan dengan meneladani sikap para tokoh senior dari kedua ormas. Ia mencontohkan almarhum KH A Hasyim Muzadi yang dikenal memiliki kedekatan dengan warga Muhammadiyah dan kerap mencairkan perbedaan melalui dialog serta humor, seperti saat menanggapi perdebatan hukum tahlil antara Pemuda Ansor dan Pemuda Muhammadiyah.
"Jadi Pak Hasyim bisa membuat perbedaan yang ada antara kedua ormas tersebut tidak menjadi masalah, tapi menjadi rahmat," ujar Buya Anwar Abbas.
Karakter serupa juga tercermin pada sosok almarhum Slamet Effendi Yusuf saat memimpin delegasi pemuda Indonesia bersama Din Syamsuddin ke Arab Saudi. Ketika menyikapi perbedaan tata cara shalat di perjalanan, sikap saling menghargai dan humor justru semakin mempererat keakraban di antara mereka.
"Hal-hal seperti inilah yang ke depan sangat kita harapkan, di mana perbedaan-perbedaan yang ada di antara kita tidak menyebabkan hubungan kita semakin renggang dan jauh, tetapi semakin dekat dan akrab," kata Buya Anwar Abbas.
Kualitas hubungan antarorganisasi keagamaan sangat ditentukan oleh keteladanan figur pemimpin yang terpilih. Oleh sebab itu, proses pemilihan ketua dalam Muktamar ke-35 NU diharapkan melahirkan sosok yang membawa kemaslahatan luas.
"Kita berharap agar pemimpin yang dipilih oleh Muktamar tidak hanya baik bagi NU saja, tapi juga bagi umat dan bangsa, sehingga NU dan umat Islam serta negara dan bangsa kita ke depan akan semakin lebih berkibar dan lebih maju lagi," ujar Buya Anwar Abbas.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow