Cara Tingkatkan Kecerdasan Emosional EQ Menurut Psikolog

Smallest Font
Largest Font

Tingkat kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ) memegang peranan krusial dalam kemampuan seseorang mengelola perasaan serta berinteraksi sosial. Keterampilan ini mencakup kapasitas menyadari, mengendalikan, hingga mengekspresikan emosi secara tepat.

Kapasitas EQ juga menentukan sejauh mana seseorang dapat menyelesaikan konflik antarsesama menggunakan pendekatan empati. Hal tersebut disampaikan oleh psikolog Jonice Webb PhD, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Peningkatan kecerdasan emosional dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang usia. Proses belajar EQ secara konsisten membantu pembentukan keputusan yang lebih matang, mempererat hubungan sosial, dan memperdalam pemahaman terhadap diri sendiri.

Manfaat serupa ditegaskan oleh mantan Dekan Harvard University Division of Continuing Education (DCE), Margaret Andrews. Keterampilan emosional yang tinggi berkontribusi langsung pada keberhasilan karier dan pencapaian prestasi kerja.

Sejumlah riset menunjukkan bahwa individu ber-EQ tinggi cenderung tampil lebih inovatif serta merasakan kepuasan kerja yang lebih besar. Hal ini terbukti dalam penelitian Ngah dkk pada American Journal of Economics (2015) serta Rezvani dkk dalam International Journal of Project Management (2016).

"Kecerdasan emosional sangat penting dalam membangun dan memelihara hubungan, serta memengaruhi orang lain--ini keterampilan kunci yang membantu orang sepanjang karier mereka dan di mana pun mereka berada dalam struktur organisasi," kata Andrews.

Proses pembentukan kecerdasan emosional dapat dimulai melalui latihan mandiri secara konsisten. Para ahli menyarankan empat langkah utama untuk mengasah kemampuan tersebut.

1. Kenali dan Beri Nama Emosi

Upaya pertama dimulai dengan menyediakan waktu sejenak untuk meresapi emosi yang sedang dirasakan. Identifikasi jenis perasaan tersebut dan latih diri untuk menahan reaksi spontan yang muncul.

Seseorang dapat mengajukan beberapa pertanyaan introspektif kepada diri sendiri:

- Apa emosi yang sedang saya rasakan saat ini? Bisakah saya menyebutkannya?

- Saat dalam situasi menegangkan, emosi apa yang biasanya muncul? Apa respons yang ingin kamu lakukan saat itu?

- Bisakah saya berhenti sejenak untuk mempertimbangkan kembali respons tersebut?

Penggunaan kata-kata yang mendeskripsikan perasaan dalam percakapan sehari-hari sangat membantu proses adaptasi ini. Kesadaran atas hadirnya suatu perasaan menjadi fondasi utama pembangunan EQ.

2. Minta Masukan dari Lingkungan Sekitar

Penilaian objektif dari pihak luar diperlukan untuk mengukur sejauh mana kecerdasan emosional telah berkembang. Lingkungan terdekat seperti teman, rekan kerja, atasan, atau keluarga dapat dimintai tanggapan.

Keterbukaan dalam menerima evaluasi kritikal menjadi kunci penting. Beberapa poin pertanyakan yang dapat diajukan meliputi:

- Bagaimana saya saat menanggapi situasi sulit?

- Seberapa mudah saya beradaptasi atau berempati?

- Seperti apa saya saat menangani konflik? Apakah sudah baik? Apa yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan?

3. Rutin Membaca Karya Sastra

Aktivitas membaca karya sastra yang menyajikan karakter kompleks terbukti efektif menaikkan tingkat empati. Menganalisis alur cerita dari sudut pandang tokoh membantu memahami motif, pemikiran, dan tindakan orang lain.

Temuan ilmiah mengenai dampak literatur terhadap peningkatan empati ini dipublikasikan oleh Maya Djikic dkk dalam Scientific Study of Literature (2013) berjudul "Reading other minds: Effects of literature on empathy". Alternatif lain dapat memanfaatkan tayangan film atau televisi untuk mengenali emosi karakter sebelum menerapkannya di kehidupan nyata.

4. Terapkan Perilaku Asertif

Perilaku asertif berfokus pada kemampuan menyampaikan maksud atau keinginan secara jujur tanpa merugikan lawan bicara. Latihan ini membutuhkan pemahaman mendalam atas perasaan pribadi terlebih dahulu.

Penyampaian pesan dilakukan menggunakan pemilihan kata yang tidak memicu sikap defensif dari orang lain. Sikap asertif menjaga komunikasi tetap terbuka dengan mengedepankan nilai empati.

Penyebaran Budaya EQ di Lingkungan Kerja

Pengembangan kecerdasan emosional di area profesional dapat meluas jika didukung oleh keteladanan. Mempraktikkan cara berkomunikasi yang baik dan bersikap bijak saat menghadapi perbedaan pendapat menjadi awal yang efektif.

Pengakuan serta apresiasi perlu diberikan kepada rekan kerja yang berhasil menunjukkan EQ tinggi. Langkah ini mendorong terciptanya lingkungan kerja yang sehat dan kolaboratif.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed