Cedera Parah Ismael Kone Membayangi Kemenangan Bersejarah Kanada atas Qatar

Smallest Font
Largest Font

Kemenangan telak tim nasional Kanada atas Qatar dengan skor 6-0 di Stadion Vancouver dilingkupi duka mendalam setelah gelandang Ismael Kone mengalami cedera patah kaki parah dalam pertandingan babak grup Piala Dunia 2026. Insiden tragis tersebut terjadi pada babak kedua ketika pemain Sassuolo tersebut mendapat tekel keras dari pemain Qatar, Assim Madibo, yang kemudian langsung diganjar kartu merah oleh wasit. Meskipun harus ditandu keluar lapangan akibat cedera parah yang mengakhiri partisipasinya di turnamen ini, Kone masih sempat memberikan tanda jempol kepada para penonton sebagai bentuk apresiasi atas dukungan mereka.

Dilansir dari BBC, momen tersebut memperlihatkan keteguhan hati sang pemain di tengah situasi yang sangat menyakitkan bagi seluruh tim. "You saw that he was waving to the crowd and almost making everyone at ease," ujar Jesse Marsch, pelatih kepala Kanada.

Marsch menambahkan bahwa reaksi Kone menunjukkan karakter luar biasa yang dimiliki oleh kelompok pemain ini, meskipun seluruh anggota tim merasa sangat terpukul dengan kejadian tersebut.

"It is a statement about Ismael, but also this is an incredible team. I have been telling people for years about the character of this group," kata Jesse Marsch. Suasana emosional menyelimuti bangku cadangan Kanada hingga membuat Marsch meneteskan air mata saat jeda minum, sementara rekan setim Kone, Nathan Saliba, memberikan penghormatan dengan membentangkan jersi Kone setelah mencetak gol keempat.

"You got see how everyone was crushed but we had to find a way to stay focus," tutur Jesse Marsch. Pelatih meyakini bahwa gelandang berusia 24 tahun tersebut memiliki masa depan yang cerah dan mampu bangkit dari cobaan berat ini demi melanjutkan karier profesionalnya.

“He will be back stronger than ever and he will continue to have a great career,” ucap Jesse Marsch. Motivasi dari Marsch pada masa jeda paruh waktu terbukti krusial untuk membangkitkan semangat juang anak asuhnya agar terus berjuang menyelesaikan pertandingan demi Kone. “I said at the water break that he would want us to finish this game - and that is what the guys did,” kata Jesse Marsch.

Setelah pertandingan berakhir, Kone segera dilarikan ke rumah sakit setempat untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut, sementara Madibo dilaporkan mendatangi ruang ganti Kanada untuk menyampaikan permohonan maaf.

"He came into the dressing room to apologise," ujar Jesse Marsch. Kendati menerima permintaan maaf tersebut, Marsch tetap menyayangkan reaksi keras yang ditunjukkan oleh jajaran tim pelatih dan pemain cadangan Qatar di pinggir lapangan saat insiden terjadi. "I don't think he meant such a gruesome tackle, I don't fault him for that but I don't understand their reaction from their bench," tutur Jesse Marsch.

Keberhasilan meraih poin penuh ini membawa Kanada semakin dekat ke babak 32 besar, sebuah pencapaian luar biasa bagi negara yang sebelumnya tidak pernah meraih poin di putaran final Piala Dunia.

“You can see the brotherhood,” kata Jesse Marsch. Keharmonisan internal tim menjadi fondasi kuat yang dirasakan langsung oleh Marsch sejak pertama kali menukangi tim nasional negara tersebut.

“It is one of the first things I noticed when I took on this role, how close they are and how connected they are,” ujar Jesse Marsch. Rencana pertemuan keluarga yang telah dijadwalkan pada hari berikutnya akan menjadi momentum bagi seluruh tim untuk saling menguatkan sekaligus mendoakan kesembuhan Kone.

“In a moment like this, I don't think they need me so much, they have each other. Their families are here and we have a family barbecue tomorrow and we will enjoy that and he [Kone] will be on our minds,” tutur Jesse Marsch. Bagi Marsch, kesempatan melatih Kanada di turnamen akbar ini merupakan proyek besar untuk mengubah lanskap dan identitas sepak bola di negara Amerika Utara tersebut secara permanen. "The big carrot was a home World Cup, " ucap Jesse Marsch.

Langkah bersejarah ini dinilai mampu menumbuhkan rasa bangga dan menciptakan memori kolektif yang mendalam bagi seluruh masyarakat Kanada.

"But it was also to change the sport in the country, to create an identity for what Canadian soccer can be," kata Jesse Marsch. Momen perayaan pascapertandingan di stadion yang meriah diyakini akan terus diingat oleh jutaan warga Kanada sebagai tonggak kebangkitan sepak bola mereka. "No-one will forget this.

No Canadian will forget this day. There will be 40 million people who said they were here when this happened," ujar Jesse Marsch.

Pertandingan penutup fase grup melawan Swiss akan menjadi penentu bagi Kanada untuk mengamankan posisi puncak klasemen grup agar tetap bertanding di kandang sendiri pada fase gugur.

"It is an incredible, seminal moment in this country," pungkas Jesse Marsch.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed