Clarissa Aurelia Raih Beasiswa Garuda Usai Diterima 14 Kampus Luar Negeri

Smallest Font
Largest Font

Keberhasilan menembus perguruan tinggi terkemuka di tingkat global membutuhkan komitmen serta persiapan jangka panjang. Pencapaian ini dibuktikan oleh Clarissa Aurelia Nahid Saputra yang sukses diterima di 14 perguruan tinggi luar negeri, dilansir dari Detikcom.

Atas prestasinya tersebut, Clarissa berhasil memperoleh Beasiswa Garuda dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Kini ia sedang menempuh studi di University of California (UC) San Diego, Amerika Serikat.

"Aku kemarin dapat 14 kampus di luar negeri dan beberapa kampus yang aku ingat sekarang itu ada NUS, NTU, UIUC, UCSD, UC Davis, dan yang lainnya itu kayak dari UK itu ada Edinburgh, ada King's College London, dan banyak lagi gitu across the United States," kata Clarissa saat ditemui di FX Sudirman, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, ditulis pada Selasa (1/9/2026).

Di samping menjalani aktivitas akademik di UC San Diego, Clarissa mengasah keterampilan bisnis bersama rekannya hingga mendirikan perusahaan rintisan di kawasan Silicon Valley.

"Nah, dari hackathon itu kita dapat funding 50.000 dolar dari salah satu startup accelerator yang di San Francisco juga. Ya dari situ kita udah kayak buat-buat projeklah. Dan di summer ini kita itu juga membuat lebih banyak projek dan akhirnya kita itu di-back sama Y Combinator," tuturnya.

Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari pola pengasuhan yang diterapkan oleh kedua orang tuanya, Tri Febriantono Saputra dan Ratna Komala Dewi. Pasangan ini menerapkan sejumlah pendekatan khusus dalam mendampingi tumbuh kembang buah hatinya.

Membebaskan Minat Tanpa Pemaksaan

Febri menjelaskan bahwa ia dan istrinya tidak pernah memaksakan kehendak kepada sang anak. Saat menempuh pendidikan dasar, Clarissa memiliki ketertarikan pada permainan gim dan sempat aktif menjadi YouTuber.

"Jadi dulu waktu SD, dia itu sebenernya anaknya biasa aja seperti anak-anak lain yang suka main game. Dulu sempat jadi YouTuber," tutur Febri.

Orang tua Clarissa mengarahkan sang anak untuk memprioritaskan pendidikan dan memasukkannya ke lembaga kursus bahasa Inggris. Ketertarikan Clarissa pada bidang fisika serta robotika kemudian berkembang secara mandiri tanpa dorongan paksa.

Memberikan Dukungan pada Pilihan Anak

Perubahan fokus Clarissa mulai terlihat pada masa pandemi COVID-19 saat ia memasang gambar tokoh-tokoh sains seperti Einstein dan Marie Curie di kamarnya. Orientasi akademiknya terus meningkat hingga menargetkan masuk ke sekolah menengah pilihannya.

"Ia prepare banget untuk masuk SMA MH Thamrin dan ambisinya tuh mulai kelihatan masuk MH Thamrin. Dari semula siswa biasa, akhirnya menjadi veledectorian (lulusan terbaik) dalam angkatannya di MH Thamrin.

Melatih Kemandirian Sejak Dini

Latihan kemandirian diberikan Febri saat mengajak anak-anaknya melakukan perjalanan ke luar negeri. Sejak berusia 7 tahun, Clarissa dibiasakan untuk membawa perlengkapannya sendiri.

"Saya waktu kecil tuh expose anak-anak tuh ke luar negeri, mungkin kalau ada rezeki gitu ya, 'Yuk anak-anak liburan'," katanya.

"Sejak masih kecil-kecil usia 7 tahun dan 4 tahun kedua anak dibiasakan mandiri saat keluar negeri. Bahkan saat mereka memasuki usia 10 tahun bawa dua buah koper gede-gede gitu dan dia bisa gitu. Saya membuat dia belajar mandiri, saya nggak mau ngasih saya bilang, 'Kita naik angkutan umum ya naik bus naik kereta, kamu meyakinkan bawa koper sendiri', akhirnya itu sangat membantu ya jadi anak-anak jadinya lebih mandiri," tuturnya.

Membangun Fondasi Keterampilan Dasar

Sang ibu memastikan Clarissa memiliki penguatan keterampilan dasar melalui les bahasa Inggris dan matematika. Pengalaman Ratna saat menempuh pendidikan spesialis kedokteran sewaktu Clarissa kecil turut membentuk lingkungan belajar di rumah.

"Clarissa kan memang dia dari hamil kan udah ikut saya maksudnya udah masuk sekolah mungkin orang-orang pada dengerin lagu klasik, lagu Mozart tapi kan dia mendengarkan orang kuliah gitu ya saya," kata Ratna.

Mengajarkan Daya Tahan terhadap Kegagalan

Perjalanan akademik Clarissa juga diwarnai tantangan, seperti saat tidak lolos seleksi di MIT dan belum berhasil meraih medali emas pada OSN Nasional. Dalam situasi tersebut, orang tuanya memberikan dorongan moral agar Clarissa tetap bangkit.

"Kami bilang, buktikan ke teman-teman kamu yang diterima di kampus-kampus terkemuka di USA bahwa kamu bisa melebihi mereka dengan prestasi," ujar sang ayah.

Clarissa kini terus melanjutkan aktivitasnya dengan mengembangkan dua platform startup, yakni Clean AI dan StudiLanjut.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed