Kemendikdasmen Pulihkan Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah Terdampak Gempa NTT
Sebanyak 478 dari 2.447 sekolah yang terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) telah kembali menggelar pembelajaran tatap muka di ruang kelas, sementara sisanya masih menggunakan mode darurat seperti tenda dan ruang kelas darurat.
Hal ini disampaikan Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Dr Saryadi, ST, MBA, dalam taklimat media secara daring pada Senin (14/9/2026), dilansir dari Detikcom.
"Dari 2.447 sekolah yang terdampak, sebanyak 1.960 satuan pendidikan menyelenggarakan pembelajaran dalam mode darurat yang dilaksanakan di tenda, di ruang terbuka, maupun ruang kelas darurat," ujar Saryadi.
Kebijakan ini merupakan hasil kerja sama antara sekolah, kepala sekolah, guru, pemerintah daerah, dan mitra Kemendikdasmen, sesuai dengan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah terkait penyelenggaraan pembelajaran di satuan pendidikan terdampak bencana.
"Ada tiga prinsip utama, yakni keselamatan peserta didik dan pendidik sebagai prioritas utama, fleksibilitas moda dan waktu pembelajaran sesuai kondisi lapangan, serta dukungan psikososial bagi warga satuan pendidikan," tambahnya.
Saryadi menjelaskan bahwa penilaian keamanan ruang kelas dilakukan bersama Kementerian Pekerjaan Umum, BNPB, tim teknis perguruan tinggi, dan Tim Revitalisasi Kemendikdasmen dengan penandaan hijau, kuning, dan merah.
"Ruang kelas berkategori kuning dan merah tidak digunakan sampai dinyatakan aman," katanya.
Sekolah dengan kerusakan ringan dapat kembali digunakan setelah perbaikan bagian berbahaya, seperti plafon yang rusak. Sekolah juga mengadakan simulasi evakuasi dan pembekalan kesiapsiagaan bagi guru dan murid sebelum kembali ke kelas.
Pembelajaran tatap muka terbatas telah dimulai secara bertahap sejak akhir Agustus hingga awal September 2026, terutama untuk siswa kelas 6, 9, dan 12 guna mempersiapkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada Oktober mendatang.
Menurut Saryadi, 730 satuan pendidikan mengalami kerusakan berat dengan 8.728 dari 13.750 ruang kelas dilaporkan rusak. Angka ini masih akan berubah seiring pendataan dan verifikasi berlanjut.
"Kabar yang kami dapat sampai sore ini, pembelajaran terus berjalan," ujarnya.
Kemendikdasmen telah mendistribusikan 100 tenda kelas darurat ke beberapa daerah terdampak, dengan nilai bantuan sekitar Rp 5,5 miliar. Sekolah dan masyarakat juga mendirikan ruang belajar sementara dari bambu, kayu, dan terpal dengan biaya dari Bantuan Operasional Satuan Pendidikan dan Belanja Tidak Terduga di daerah.
Mengantisipasi musim hujan, Kemendikdasmen menyiapkan Rp 3,5 miliar untuk pembangunan 672 ruang kelas sementara yang diperkirakan tahan 4-6 bulan, di PAUD, SLB, dan SMP, dengan bantuan Rp 4 juta per ruang kelas.
"Kemudian 65 ruang kelas sementara bagi SMP, 29 ruang kelas sementara SMA, senilai masing-masing Rp 15 juta per ruang kelas juga akan segera menyusul," pungkas Saryadi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow