Como 1907 Terancam Sanksi FFP Usai Belanja Pemain Rp8,2 Triliun
Klub Italia milik pengusaha Indonesia, Como 1907, terancam sanksi Financial Fair Play (FFP) dari UEFA setelah mengalokasikan anggaran transfer belanja pemain hingga lebih dari 342 juta euro atau sekitar Rp8,25 triliun sejak musim 2024-2025 demi berlaga di Liga Champions 2026-2027.
Guna memenuhi standar UEFA, klub berjuluk I Lariani tersebut juga menyalurkan dana sebesar 5 juta euro untuk memodernisasi Stadion Giuseppe Sinigaglia. Pengeluaran besar ini membawa Como menempati urutan keempat klasemen akhir Serie A 2025-2026 dan menjadi satu-satunya tim di luar kelompok tiga besar Italia yang belanja pemainnya mampu menyaingi kekuatan finansial klub raksasa.
Kinerja finansial klub mencatatkan nilai transfer fantastis pada bursa transfer musim panas 2026 melalui perekrutan Nico Paz senilai 66 juta euro dari Real Madrid serta bek Chelsea Trevoh Chalobah sebesar 30 juta euro. Selain itu, manajemen Como mendaratkan Jesus Rodriguez seharga 22,5 juta euro, Nicolas Kuhn senilai 19 juta euro, dan Martin Baturina seharga 18 juta euro.
Di sisi lain, perwakilan Indonesia di Liga Italia tetap diwarnai oleh kepindahan mantan bek Persib Bandung Federico Barba ke Palermo di Serie B, serta bertahannya Jay Idzes di Sassuolo dan Emil Audero di Como 1907. Petinggi klub juga harus memutar otak mengatasi regulasi teknis Eropa lantaran tim terancam hanya bisa mendaftarkan 16 hingga 17 pemain akibat kendala kuota pemain lokal.
Manajemen tim menegaskan kesiapan penuh dalam menghadapi kemungkinan hukuman administratif maupun konsekuensi keuangan dari badan pengawas sepak bola Eropa tersebut demi menjaga proyek jangka panjang klub.
"Saya tidak butuh UEFA untuk memberi tahu saya soal itu. Jika mereka harus menjatuhkan denda kepada kami, silakan saja," kata Presiden Como, Mirwan Suwarso.
Pihak kepemimpinan klub menilai sanksi yang membayangi merupakan bagian dari dinamika serta tantangan operasional yang patut dilewati dalam proses transformasi tim.
"Itu adalah bagian dari hambatan yang harus kami atasi. Itu merupakan konsekuensi wajar dari pekerjaan ini," tegas Mirwan Suwarso.
Langkah tegas manajemen tercermin dari ket ketidakgentaran pimpinan klub saat memberikan tanggapan langsung kepada media Italia La Gazzetta dello Sport mengenai potensi investigasi keuangan regulasi kompetisi.
"Kalau mau dihukum, hukum saja," ujar Mirwan Suwarso.
Sementara itu, krisis kedalaman skuad di lini pertahanan sempat diakui oleh staf kepelatihan tim di tengah jadwal padat pramusim.
"Kami kesulitan di lini belakang," ujar Alberto Aquilani, pelatih Sassuolo.
Kondisi kesiapan teknis tim semakin krusial mengingat jajaran pelatih harus memaksimalkan komposisi pemain yang ada sebelum kompetisi resmi bergulir.
"Saya bahkan belum melatih satu pun calon pemain inti, tetapi saya berterima kasih kepada mereka yang bekerja keras," kata Alberto Aquilani.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow