Kebakaran Hutan Berdampak Panjang pada Hasil Akademik Anak
Gangguan proses belajar akibat bencana alam tidak hanya berlangsung saat peristiwa terjadi, melainkan dapat bertahan hingga bertahun-tahun. Penurunan kemampuan akademik siswa di wilayah terdampak parah menjadi salah satu konsekuensi jangka panjang yang nyata.
Sebuah studi dari University of Melbourne yang terbit di jurnal Child Development mengevaluasi 24.642 siswa sekolah dasar di Victoria, Australia. Para peneliti memantau perkembangan akademik anak-anak yang terdampak kebakaran hutan Black Saturday Februari 2009 selama empat tahun.
Evaluasi dilakukan melalui National Assessment Program pada dua dan empat tahun pascabencana. Pengujian mencakup lima area utama, yaitu membaca, menulis, mengeja, berhitung, serta tata bahasa, dengan mempertimbangkan latar belakang keluarga dan lingkungan sekolah.
Hasil riset menunjukkan perkembangan kemampuan membaca dan berhitung siswa kelas 3 hingga kelas 5 di area terdampak parah mengalami perlambatan signifikan. Sebaliknya, capaian pada aspek menulis, mengeja, dan tata bahasa tidak menunjukkan perbedaan tajam.
"Temuan ini menyoroti dampak akademik yang berlangsung dalam jangka panjang serta mengidentifikasi peluang penting bagi intervensi dalam sistem pendidikan agar anak-anak dapat mencapai potensi maksimal mereka," jelas Lisa Gibbs, salah satu peneliti riset tersebut, dikutip dari Detikcom.
Pengalaman trauma pada masa awal tumbuh kembang serta gangguan lingkungan hidup dinilai memicu penurunan fungsi kognitif. Kondisi ini makin rumit bagi anak-anak yang terpaksa berpindah sekolah akibat kehilangan tempat tinggal.
Dampak polusi udara dari karhutla terhadap dunia pendidikan juga diperkuat oleh temuan Stanford University tahun 2022. Kajian di jurnal Nature Sustainability tersebut menganalisis data skor tes terstandar dari 11.700 distrik sekolah di Amerika Serikat selama delapan tahun.
Studi Stanford mengonfirmasi bahwa paparan asap karhutla di lingkungan sekolah menyebabkan penurunan nilai mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris. Penurunan performa akademik terpantau lebih tajam saat paparan asap pekat terjadi pada jam sekolah aktif.
Anak-anak pada jenjang kelas tiga hingga lima tercatat paling rentan terhadap paparan polusi asap. Saluran pernapasan yang masih berkembang serta laju napas yang lebih tinggi membuat kelompok usia muda ini berisiko tinggi mengalami gangguan kesehatan.
"Ini berarti anak-anak yang lebih muda mungkin lebih rentan terhadap dampak asap yang memengaruhi kognisi mereka secara langsung maupun tidak langsung, seperti meningkatnya serangan asma yang mengganggu proses belajar dan menyebabkan lebih banyak ketidakhadiran di sekolah," terang Jeff Wen, penulis utama studi Stanford University.
Penurunan nilai ujian terstandar tersebut berimplikasi langsung pada prospek ekonomi siswa. Peneliti menaksir paparan asap karhutla sepanjang tahun 2016 saja berpotensi menekan total penghasilan masa depan siswa di Amerika Serikat hingga 1,9 miliar dolar AS.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow