Denny Sumargo Ungkap Pelajaran Kesetiaan Lewat Film Baby Udon

Smallest Font
Largest Font

Aktor dan produser eksekutif Denny Sumargo mengungkapkan berbagai pelajaran hidup tentang arti menjadi seorang suami, kesetiaan, serta pengorbanan pria setelah memerankan karakter Hajime Kondoh dalam film Baby Udon di CGV Grand Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (26/8/2026).

Kisah film tersebut diangkat dari perjalanan hidup nyata pasangan Hajime Kondoh dan Fanny Kondoh. Dilansir dari Detik Hot, proyek layar lebar ini diproduksi oleh LYTO Pictures bekerja sama dengan para penulis, sutradara, hingga kru film.

Proses pengembangan cerita film ini memakan waktu sekitar satu tahun dan sempat hampir menemui kegagalan. Ide awal pembuatan film bermula dari kisah Fanny yang dibagikan melalui siniar milik Denny, sebelum akhirnya sang istri, Olivia Sumargo, mendorongnya untuk mengadaptasi cerita tersebut ke bioskop.

Denny menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang menghadiri acara pemutaran perdana tersebut.

"Ya begitulah, ya begitulah. Terima kasih banyak sebelumnya untuk semuanya, kalian sudah datang di sini, meluangkan waktu, energi. Dan saya yakin ini bukan sebuah kebetulan," kata Denny Sumargo.

Tantangan utama selama masa produksi terletak pada proses penyempurnaan alur cerita agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh para penonton.

"Perjalanannya cukup panjang, satu tahunan, hampir, hampir gagal," beber Denny Sumargo.

Penulisan skenario dilakukan secara khusus bersama tim penulis untuk merangkum perjalanan hidup tokoh utama yang dinilai sangat luas.

"Jadi kesulitan kita itu adalah bagaimana men-develop cerita ini, yang hidupnya Fani yang begitu luas itu. Kita kerucutkan bersama dengan Mbak Oka. Itu pekerjaannya sangat tidak mudah," jelas Denny Sumargo.

Meskipun produksi karya layar lebar bukan merupakan bagian dari impian pribadinya, Denny tetap memutuskan untuk mengambil proyek tersebut atas permintaan sang istri.

"Kemudian bagaimana akhirnya film ini bisa berbicara sendiri di hadapan kalian. Karena sebenarnya jujur pribadi dari gua, gua itu nggak pernah berpikir dan berharap bikin film. Jauh dari mimpi gua, gua nggak punya keinginan-keinginan itu," ungkap Denny Sumargo.

Permintaan tersebut dinilainya sebagai sebuah kesempatan untuk menyampaikan pesan moral yang lebih mendalam kepada masyarakat.

"Tapi ketika istri gua meminta gua, gua ngerasa apa mungkin ada sesuatu yang Tuhan ingin sampaikan lewat medium rasa ini," kata Denny Sumargo.

Harapan besar pun disampaikan agar penonton dapat membawa pulang kesan serta pembelajaran dari perjalanan emosional tokoh utama.

"So, ya saya lihat ini bukan hanya sekadar film. Tapi ini adalah sebuah cerita, sebuah pengalaman, sebuah momen, yang saya harap ikut bersama kalian pulang, ketika layar ini sudah menjadi gelap," ujar Denny Sumargo.

Pesan-pesan dalam alur cerita diharapkan mampu tersebar luas melalui tanggapan positif dari masyarakat yang telah menyaksikan.

"Dan kalau kalian punya satu alasan, satu harapan, atau satu rasa yang kalian bisa bagikan setelah menonton film ini, semoga kalian bisa bagikan. Karena menurut saya itu cukup. Di mana 'Baby Udon' akhirnya menemukan jalannya lewat kalian. Terima kasih," kata Denny Sumargo.

Mengenai karakter Hajime Kondoh yang dimainkannya, Denny menilai sosok tersebut sangat berseberangan dengan kepribadian aslinya di dunia nyata.

"Harusnya, kalau mau aman jadilah kayak Hajime Kondo. Jangan jadi Denny Sumargo. Hidup kalian akan terlalu rollercoaster kalau jadi gua.

Nah, Hajime ini menurut saya lawan saking lawan, alter ego saya. Saya itu lebih ke red flag sebenarnya. Kalau Hajime itu lebih ke green flag dia," kata Denny Sumargo.

Candaan tersebut disampaikan Denny sembari berseloroh mengenai respons dari sang istri di sela-sela acara.

"Nggak usah ditambahin 'Iya, Liv'. Validasi udah cukup," ujar Denny Sumargo.

Di samping humor tersebut, Denny mengakui sosok Hajime mengajarkan banyak hal tentang ketabahan dan kesabaran seorang pria dalam menghadapi masa-masa sulit.

"Dan aku belajar banyak hal dari karakter Hajime yang menurut aku itu adalah satu hal yang paling fragile, yang paling aku takuti ketika aku mengarungi dunia ini. Karena ketika kita menjadi baik, kita menjadi sabar, banyak rasa luka yang harus kita tanggung sendiri," lanjut Denny Sumargo.

Keteguhan sikap yang ditunjukkan oleh tokoh utama tersebut dinilai menjadi gambaran nyata pengorbanan terbesar seorang kepala keluarga.

"Kenapa orang memutuskan untuk menjadi orang yang suka menghujat atau mem-bully atau menyakiti orang lain? Karena dia tidak kuat untuk menahan rasa sakit yang ada dalam dirinya. Tapi Hajime Kondo, sampai di titik terakhirnya, dia lepas nyawanya, sebagai ganti supaya doanya dijawab sama Tuhan," tutur Denny Sumargo.

Denny turut melafalkan doa pengorbanan yang menjadi simbol perjuangan tokoh Hajime dalam menjaga anggota keluarganya.

"'Tolong jaga istri dan anakku' Amin. Amin. Laki-laki.

Itu tujuan hidup seorang pria. Pergi untuk istrinya dan berkorban untuk anak-anaknya," tegas Denny Sumargo.

Ia juga menyoroti pentingnya nilai kesetiaan bagi seorang pria dalam menjaga keharmonisan rumah tangga agar tidak mudah terpengaruh godaan luar.

"Jadi buat gue ini pesannya juga besar sekali untuk para pria. Apalagi pesan kesetiaan, hal yang hanya dari wanita. Karena kita sebagai pria, sudah sering, jarang banget, langka banget menyadari bahwa kita sebagai laki-laki itu harus punya kesetiaan yang luar biasa," lanjut Denny Sumargo.

Komitmen untuk bertahan bersama pasangan menjadi penekanan utama yang ingin disampaikan dalam alur cerita film tersebut.

"Jangan gampang kita itu ke kiri dan ke kanan. Memang rumput tetangga lebih hijau, tapi ya cobain aja nanti ya kalau udah berpisah gitu. Jadi buat saya pesan yang dibawa film ini tuh besar sekali lewat Hajime," kata Denny Sumargo.

Sebagai penutup, Denny menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada narasumber utama yang telah bersedia membagikan kisah hidupnya hingga berhasil diadaptasi menjadi sebuah karya sinematik.

"Dan saya berterima kasih banyak buat Fanny yang sudah menceritakan di podcast saya. Karena kalau tidak ada cerita Fanny, hari ini tidak ada cerita ini. Dan mungkin saya tidak akan bisa menikmati salah satu kemegahan dan pemberian Tuhan yang luar biasa diberikan kesempatan bersama dengan semua tim untuk membuat film ini hadir di hadapan kalian semua Terima kasih banyak," kata Denny Sumargo.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed