Enam Film Terlibat Sineas Indonesia Tembus BIFF 2026

Smallest Font
Largest Font

Sineas Indonesia kembali mengukir prestasi internasional melalui ajang Busan International Film Festival (BIFF) 2026. Seperti dilansir dari Detikcom, terdapat empat karya buatan sineas lokal serta dua film produksi bersama perusahaan Indonesia yang lolos seleksi festival bergengsi tersebut. Ajang BIFF menjadi salah satu panggung perfilman dunia yang sangat diperhitungkan.

Kemenangan pada ajang Busan Award - Best Film Award di Kompetisi Utama memberikan akses khusus bagi film pemenang untuk langsung terdaftar dalam kategori International Feature Film di ajang Oscar tanpa perlu melalui Komite Oscar negara asal. Program Kompetisi Utama BIFF tahun ini menampilkan 14 karya sinema dari Korea, Jepang, Tiongkok, Taiwan, Iran, Uzbekistan, serta Indonesia. Dua judul film dari Tanah Air berhasil masuk dalam jajaran kompetisi bergengsi tersebut.

Film pertama yakni Ibuku (My Mother) yang disutradarai oleh Eddie Cahyono. Karya ini menampilkan akting Christine Hakim sebagai Sumiati yang berjuang menemui putrinya, Sri (Ayushita), usai mendapat vonis hukuman mati di Arab Saudi akibat tuduhan pembunuhan majikan.

Perjalanan Sumiati dalam film tersebut membingkai konflik lama antara ibu dan anak. Narasi ceritanya juga mengangkat persoalan buruh migran, hak asasi manusia, serta isu perempuan. Sementara itu, film kedua yang bertarung di Kompetisi Utama adalah The Sea Speaks His Name (Laut Bercerita) garapan sutradara Yosep Anggi Noen. Sinopsisnya berpusat pada tokoh Biru Laut bersama rekan-rekannya di kelompok studi Winatra yang menghadapi perubahan situasi kampus setelah aksi penangkapan mahasiswa pembaca buku terlarang.

Film Indonesia di Program Lanjutan

Selain Kompetisi Utama, karya sinema nasional juga mengisi program A Window on Asian Cinema. Salah satunya adalah Four Seasons in Java (Empat Musim Pertiwi) buatan sutradara Kamila Andini.

Film Four Seasons in Java menampilkan Putri Marino yang memerankan karakter Pertiwi. Tokoh ini diceritakan pulang ke kampung halaman usai menghabiskan waktu 20 tahun di perantauan, lalu harus menghadapi bayang-bayang trauma masa lalunya.

Kategori Wide Angle - Asian Short Film Competition turut memuat karya sutradara Dhiwangkara Seta yang berjudul αLPα. Film pendek ini menceritakan sosok Banyu, seorang vokalis band punk yang dimasukkan ke pusat rehabilitasi moral hingga akhirnya bertemu dengan figur dari masa lalu.

Kolaborasi Sinema Antarnegara

Kiprah industri perfilman nasional di BIFF 2026 juga diperkuat oleh dua proyek kolaborasi lintas negara yang masuk dalam program A Window on Asian Cinema. Perusahaan film asal Indonesia terlibat aktif dalam proses produksi kedua karya tersebut. Proyek pertama bertajuk 9 Temples to Heaven karya sutradara Sompot Chidgasornpongse. Film ini diproduksi atas kerja sama antara Indonesia, Thailand, Singapura, Prancis, Norwegia, China, Hong Kong, dan Qatar.

Proyek kolaborasi kedua adalah Hearing garapan sutradara Le Bao. Produksi film ini melibatkan lintas negara yang mencakup Indonesia, Singapura, Vietnam, Norwegia, Prancis, Arab Saudi, Kamboja, Thailand, serta Taiwan. Penyelenggaraan Busan International Film Festival 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung pada 6-15 Oktober 2026. Kehadiran total enam film tersebut semakin memperpanjang rekam jejak sineas nasional di kancah perfilman global.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed